Tarakan Rugi Ekspor karena Biaya Kontainer Rp150 Juta Mahal Tiga Kali Lipat

Penulis: Redaksi  •  Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:48:28 WIB
Biaya kontainer ekspor dari Tarakan mencapai Rp150 juta, tiga kali lipat lebih mahal dibanding Surabaya.

Tarakan — Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kalimantan Utara mencermati potensi ekspor langsung yang belum optimal dari Tarakan ke pasar internasional. Ketua APINDO Kaltara Peter Setiawan menekankan bahwa permasalahan utama bukan pada ketersediaan sarana, melainkan pada struktur biaya logistik yang tidak kompetitif.

Jalur Ekspor Bergeser ke Tawau, Malaysia

Sejak masa kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang melarang ekspor kepiting, pelaku usaha lokal terpaksa membuka jalur distribusi melalui luar negeri. Produk perikanan Kalimantan Utara kini lebih dikenal berasal dari Tawau, Malaysia, bukan dari Tarakan.

"Pengusaha dari China akhirnya buka kantor di Tawau, lalu ekspor lewat sana. Akhirnya produk kita dikenal dari Tawau, bukan Tarakan," papar Setiawan. Kondisi ini membuat aktivitas ekspor tercatat di luar daerah, mengakibatkan Kalimantan Utara kehilangan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Perbedaan Tarif Kontainer Tiga Kali Lipat

Data biaya pengiriman menunjukkan kesenjangan drastis antara Tarakan dan pelabuhan lain. Biaya kontainer langsung dari Tarakan ke China mencapai sekitar Rp150 juta, sementara dari Surabaya ke tujuan yang sama hanya berkisar Rp50 juta. Perbedaan ini membuat banyak eksportir memilih mengirim barang melalui Surabaya meski jalur tersebut lebih jauh.

Peter Setiawan menegaskan bahwa disparitas biaya ini harus segera dipecahkan. Faktor operasional dan keterbatasan distribusi logistik menjadi penyebab utama, meski fasilitas pelabuhan yang dikelola Pelindo sudah tersedia di Tarakan.

Tekanan Geopolitik dan Inflasi Biaya Operasional

Kendala biaya tidak hanya berasal dari struktur logistik lokal. Kondisi geopolitik global turut memengaruhi margin keuntungan eksportir. Kenaikan harga bahan kemasan dan ongkos logistik internasional terus menekan pelaku usaha, sementara harga jual produk tidak mengalami peningkatan yang seimbang.

"Kontainer naik, packaging naik, tapi harga jual tidak naik," kata Setiawan. Kondisi ini menciptakan pincang ekonomi bagi industri ekspor lokal, khususnya segmen perikanan yang menjadi andalan Kalimantan Utara.

Pasar Global Masih Terbuka untuk Diversifikasi

Meski menghadapi tantangan logistik, permintaan dari Amerika dan Eropa masih berjalan stabil. Sektor pasar Timur Tengah mengalami penurunan signifikan akibat konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut, sehingga diversifikasi pasar ke wilayah lain menjadi strategi alternatif yang perlu ditingkatkan.

APINDO Kalimantan Utara melihat perlu adanya intervensi kebijakan untuk menurunkan biaya logistik ekspor langsung dari Tarakan. Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan pengusaha untuk mengekspor langsung dari daerah asal, sekaligus meningkatkan PAD dan reputasi Tarakan sebagai pusat ekspor perikanan berkualitas.

Reporter: Redaksi
Back to top