TANJUNG SELOR — Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara memperkenalkan program SINERGI Kaltara (Sistem Integrasi Nilai Ekonomi Rantai Global Industri untuk Kalimantan Utara) dalam forum diskusi terbatas di Kantor Gubernur Kaltara, Rabu (8/7). Program ini dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan pelaku UMKM lokal dengan kebutuhan industri di Kawasan Industri Tanah Kuning.
Sekretaris Daerah Provinsi Kaltara Denny Harianto mengungkapkan bahwa nilai investasi di Kaltara meningkat drastis dari Rp11,79 triliun pada 2024 menjadi Rp30,64 triliun pada 2025. Namun, pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto per kapita hanya naik sekitar 3,2 persen.
"Artinya, pertumbuhan investasi yang tinggi belum sepenuhnya menghasilkan manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat," kata Denny dalam forum yang digelar di ruang rapat lantai 4 kantor gubernur.
Kawasan Industri Tanah Kuning seluas 10.100 hektare telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Namun, di sisi lain, masih terdapat sekitar 51.840 pelaku UMKM yang belum terhubung dengan ekosistem industri tersebut.
Denny menilai kondisi itu menjadi tantangan besar karena pelaku usaha lokal belum memperoleh ruang yang memadai untuk masuk ke dalam rantai pasok industri. Jika dibiarkan, kebocoran ekonomi akan semakin besar karena kebutuhan industri lebih banyak dipenuhi dari luar daerah.
Tanpa mekanisme kolaborasi yang terintegrasi, Denny memperingatkan potensi terjadinya enclave economy — ketika investasi besar hadir tetapi manfaatnya hanya sedikit dirasakan masyarakat sekitar. Kondisi ini juga berpotensi memperlebar kesenjangan sosial, melemahkan daya saing UMKM, hingga menghambat program hilirisasi nasional.
"Jangan sampai industri berkembang pesat, tetapi UMKM kita tidak ikut tumbuh," ujarnya.
Melalui program SINERGI Kaltara, pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi, memenuhi standar kebutuhan industri, serta menjadi bagian dari rantai pasok yang kuat dan berkelanjutan. Denny mengajak seluruh perangkat daerah membangun kolaborasi untuk mendukung implementasi program ini.
"Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Itu yang ingin kita wujudkan melalui SINERGI Kaltara," pungkasnya.