MALINAU — Pelabuhan Speedboat di Kabupaten Malinau resmi menjadi simpul transportasi perairan keempat di Kalimantan Utara yang menerapkan sistem pembayaran digital. Peresmian tahap awal atau soft launching Pelabuhan Malinau Siap QRIS digelar pada Selasa (21/7/2026) oleh KPwBI Kaltara bersama Pemkab Malinau.
Kepala KPwBI Kaltara, Agus Taufik, menyebut program ini merupakan hasil kolaborasi dengan Dinas Perhubungan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Tujuannya, menciptakan ekosistem transaksi di kawasan pelabuhan yang lebih efisien dan inklusif.
”Pelabuhan SIAP QRIS merupakan program digitalisasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara berkolaborasi dengan seluruh Dinas Perhubungan tingkat provinsi, Kabupaten/Kota sebagai upaya mentransformasi ekosistem transaksi di kawasan pelabuhan menjadi lebih efisien, transparan, dan inklusif melalui pemanfaatan sistem pembayaran berbasis QRIS,” ujar Agus Taufik dalam keterangannya.
Penerapan QRIS di Pelabuhan Malinau menambah daftar dermaga digital di Kaltara. Sebelumnya, sistem serupa sudah berjalan di Pelabuhan Tengkayu 1 Tarakan sejak Desember 2025, Pelabuhan Kayan II Bulungan pada April 2026, dan Pelabuhan Liem Hie Djung Nunukan pada Mei 2026.
Inisiatif ini berawal dari program DIGI-PORT yang diluncurkan bersama Dinas Perhubungan Provinsi pada September 2025. Bankaltimtara menjadi kanal pembayaran pertama untuk retribusi kepelabuhanan. Komitmen ini kemudian diperkuat dalam High Level Meeting TP2DD Provinsi Kalimantan Utara, di mana seluruh pimpinan daerah sepakat menyediakan alternatif pembayaran non-tunai di setiap pelabuhan.
Transformasi ini membawa dampak signifikan terhadap pengelolaan penerimaan daerah. Agus Taufik mengungkapkan, retribusi kepelabuhanan di Kaltara yang sebelumnya 100 persen bergantung pada uang tunai, kini 64 persen di antaranya sudah melalui QRIS dan transfer bank.
”Melalui hadirnya QRIS di Pelabuhan Malinau, kami berharap masyarakat mendapatkan kemudahan saat membayar tiket speedboat maupun retribusi daerah secara non-tunai. Dampaknya tidak hanya memberikan kenyamanan transaksi, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem keuangan digital yang kokoh di Kaltara,” tambah Agus.
Keberhasilan implementasi di Malinau melibatkan agen tiket dan pemilik speedboat sebagai aktor utama transaksi harian. Ekosistem ini ditopang oleh empat bank: Bankaltimtara, BRI, BNI, dan Bank Mandiri.
Bank Indonesia Kaltara menargetkan perluasan program Siap QRIS ke lima pelabuhan lainnya di wilayah Kaltara untuk memastikan layanan keuangan digital yang inklusif bagi seluruh masyarakat.