Kementan Buka Tiga Jurus Ilmiah Turunkan Kadar Nikotin Tembakau, Petani Bisa Terapkan

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Selasa, 28 Juli 2026 | 12:02:31 WIB
Kementan memperkenalkan tiga metode ilmiah untuk menurunkan kadar nikotin tembakau, mencakup pendekatan genetik, teknik budidaya, dan metode pasca-panen.

KALIMANTAN UTARA — Kementan menilai penurunan kadar nikotin bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan industri tembakau nasional. Lewat riset dan praktik lapangan, tiga pendekatan utama disiapkan untuk menjawab tantangan itu.

Apa Saja Tiga Metode Penurun Nikotin?

Pertama, pendekatan genetik dengan memilih varietas bibit tembakau yang secara alami memiliki kadar nikotin rendah. Kedua, teknik budidaya yang diatur sejak masa tanam, seperti pengelolaan pemupukan dan irigasi. Ketiga, metode pasca-panen lewat proses pengeringan dan fermentasi yang dimodifikasi.

Ketiga cara ini disebut membutuhkan proses ilmiah dan agronomis yang matang. Kementan menekankan bahwa penerapannya bisa dilakukan petani tanpa perlu alat canggih, asal ada pendampingan teknis dari penyuluh pertanian.

Mengapa Kadar Nikotin Harus Diturunkan?

Dorongan menekan kandungan nikotin tembakau muncul dari kebijakan pengendalian konsumsi rokok di dalam negeri dan ekspor. Beberapa negara tujuan ekspor tembakau Indonesia mulai memberlakukan batas maksimum kadar nikotin pada produk impor. Jika petani tak beradaptasi, pangsa pasar bisa tergerus.

Di sisi lain, konsumen dalam negeri juga mulai beralih ke produk tembakau alternatif dengan kadar nikotin lebih rendah. Kementan menilai langkah ini bisa menjaga keberlanjutan usaha tani tembakau tanpa harus kehilangan pasar.

Dampak Langsung ke Petani dan Industri

Penerapan tiga metode ini diharapkan memberi nilai tambah pada hasil panen. Petani yang mampu memproduksi tembakau rendah nikotin berpotensi mendapatkan harga jual lebih tinggi, terutama untuk pasar ekspor dan industri rokok premium. Kementan juga berencana memperluas program demonstrasi plot (demplot) di sentra produksi tembakau seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.

Dengan pendekatan ini, Kementan optimistis industri tembakau nasional bisa tetap kompetitif tanpa mengorbankan kesehatan publik. Langkah selanjutnya adalah memperkuat sinergi dengan dinas pertanian daerah dan akademisi untuk mempercepat adopsi teknologi di lapangan.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top