JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat sejumlah tonggak penting dalam penanganan bencana di berbagai wilayah sepanjang Agustus 2026. Menteri PU Dody Hanggodo memimpin langsung percepatan penanganan tersebut, mulai dari gempa yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kelanjutan rehabilitasi pascabencana di Sumatera.
Rangkaian penanganan ini bermula dari gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, pada pertengahan Agustus 2026.
Gempa tersebut merusak sejumlah ruas jalan, jaringan air bersih, hingga fasilitas publik di beberapa kabupaten.
Dody segera meninjau langsung ke Kabupaten Nagekeo dan meminta pemerintah daerah melaporkan titik-titik kerusakan tanpa menunggu pendataan tuntas.
“Kami hadir pada setiap bencana, karena arahan Pak Presiden sudah jelas bahwa kita tidak boleh berduka berlama-lama, secepatnya kita harus bangkit. Jadi saya mohon diberikan data lengkapnya, titik-titiknya. Sehingga kami bisa menurunkan tim segera, bisa berkoordinasi dengan kepala-kepala dinas, bisa langsung mengecek satu per satu dan langsung bekerja,” kata Dody.
Empat hari setelah kunjungan Dody ke Nagekeo, tim di lapangan mencatat hasil nyata.
Sembilan ruas jalan nasional yang terdampak gempa sudah kembali berfungsi per 16 Agustus 2026, delapan di antaranya berada di jalur Trans Flores dari Labuan Bajo menuju Ende dan Maumere, dan satu ruas lagi yaitu Ruteng-Reo-Kedindi.
Sebanyak 40 titik longsoran dan empat titik patahan badan jalan ditangani menggunakan tujuh unit ekskavator dan empat unit loader dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional NTT.
Pada hari yang sama, jaringan SPAM Inpres 2024 IKK Nangaba di Kabupaten Ende yang rusak akibat gempa juga mulai diperbaiki dan rampung pada malam berikutnya.
Meski akses utama sudah terbuka, ruas Krica-Lidi sepanjang 4,1 kilometer di Desa Pulue masih menyisakan pekerjaan, dengan sedikitnya 10 titik longsor.
Dua unit ekskavator dan satu kendaraan pikap dikerahkan untuk menangani ruas tersebut.
Per 19 Agustus 2026, tim gabungan berhasil menembus salah satu titik longsor, sementara pembersihan di titik lainnya masih berlangsung.
Pada periode yang sama, sekitar 7.000 warga di delapan desa Pulau Palue, Kabupaten Sikka, menerima bantuan empat tandon air berkapasitas 1.200 liter, sembari pemerintah menyiapkan survei geolistrik untuk sumber air jangka panjang.
Personel pemeriksa bangunan terdampak turut ditambah dari tiga menjadi 14 orang, dengan sasaran Rumah Sakit Komodo, kantor pemerintahan, rumah ibadah, dan fasilitas umum lainnya, sementara Daerah Irigasi Mbay Kiri Lanjutan tercatat rusak sepanjang 250 meter dan berdampak pada 175 hektare lahan.
Sehari setelah tim menembus longsor di Krica-Lidi, Kementerian PU merilis data terbaru rehabilitasi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terjadi akhir 2025.
Data per 20 Agustus 2026 mencatat capaian berikut:
Jauh sebelum gempa Flores terjadi, Kementerian PU sudah memulai pembangunan sabo dam di kawasan Gunung Marapi, Sumatera Barat, sejak Maret 2026.
Delapan sabo dam tahap pertama dibangun, terdiri atas lima unit di Kabupaten Tanah Datar dan tiga unit di Kabupaten Agam, dengan kapasitas tampung sedimen sekitar 440.000 meter kubik.
Agenda ini akan berlanjut dengan pembangunan total 56 sabo dam di 24 sungai secara bertahap sepanjang 2026-2029.
Sementara itu, sejumlah pekerjaan irigasi dan bendung di Sumatera masih berjalan: baru 13 dari 31 daerah irigasi kewenangan pusat yang selesai, dua dari 65 daerah irigasi kewenangan daerah, empat dari 14 bendung nasional, dan tiga dari 52 bendung daerah.
Rentetan tanggal dan angka di atas menunjukkan pola kerja Kementerian PU yang konsisten: bergerak cepat begitu bencana terjadi, memulihkan layanan dasar, lalu melanjutkan rehabilitasi hingga mitigasi jangka panjang.
Baik di NTT maupun Sumatera, kecepatan pada hari-hari pertama dinilai penting agar distribusi bantuan tidak terhambat oleh akses yang terputus.
Pekerjaan pun terus berlanjut hingga wilayah terdampak benar-benar siap menghadapi kemungkinan bencana berikutnya.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, NTT, pada pertengahan Agustus 2026, merusak sejumlah ruas jalan, air bersih, dan fasilitas publik.
Sembilan ruas jalan nasional yang terdampak gempa sudah kembali berfungsi per 16 Agustus 2026, delapan di antaranya di jalur Trans Flores.
Kementerian PU merilis data per 20 Agustus 2026 yang mencatat 107 ruas jalan nasional dan 43 jembatan nasional di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sudah kembali fungsional.
Pembangunan delapan sabo dam tahap pertama di Gunung Marapi dimulai sejak Maret 2026, dengan rencana total 56 unit di 24 sungai hingga 2029.