Ratusan jemaah Muhammadiyah menggelar shalat Istisqa di Lapangan SD Muhammadiyah Tanjung Selor, Jumat pagi, memohon diturunkan hujan setelah lebih dari sebulan kemarau panjang melanda Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Kekeringan yang berkepanjangan itu memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah dengan kabut asap.
TANJUNG SELOR — Kabut asap akibat karhutla yang pekat di Bulungan mendorong umat Islam bersatu dalam permohonan. Shalat Istisqa yang digelar Jumat pagi itu bukan hanya untuk warga Muhammadiyah, tetapi terbuka bagi seluruh kaum muslimin di Tanjung Selor. Kegiatan ini menjadi yang pertama kali diselenggarakan Muhammadiyah di kabupaten tersebut.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ar-Rahman Tanjung Selor, Agus, yang bertindak sebagai panitia pelaksana, menyebut kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Kementerian Agama serta arahan Pimpinan Wilayah dan Daerah Muhammadiyah Kalimantan Utara.
Kondisi cuaca ekstrem yang melanda Bulungan sudah berlangsung lebih dari satu bulan. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian, tetapi juga mengganggu kesehatan warga akibat kabut asap yang pekat.
Agus menegaskan bahwa situasi ini mengharuskan anak-anak sekolah menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR). “Seperti kita ketahui bahwa daerah kita kemarau panjang, kemudian masih diliputi kabut asap akibat kebakaran (karhutla) di beberapa titik,” ujarnya di Tanjung Selor, Jumat.
Shalat yang dimulai sekitar pukul 08.00 Wita ini dipimpin imam Ustadz Rafy Septian Dinata dengan khatib Ustadz Gufron Asrori. Ribuan jemaah laki-laki dan perempuan tampak khusyuk mengikuti rangkaian ibadah di lapangan terbuka.
“Ini umum juga. Jadi di samping warga Muhammadiyah, umum juga. Memang imbauan kita untuk semua kaum muslimin. Jadi tidak hanya Muhammadiyah, tapi semua,” jelas Agus mengenai partisipasi jemaah yang tidak terbatas pada satu organisasi.
Panitia berharap Allah SWT menurunkan hujan yang membawa keberkahan, bukan sekadar air yang turun ke bumi. Hujan tersebut diharapkan mampu membersihkan udara dari polusi serta memulihkan kondisi lingkungan yang sedang dilanda kekeringan.
“Harapan kita semoga dengan shalat Istisqa Allah SWT menurunkan hujan keberkahan dari langit sehingga situasi yang saat ini kita rasakan berubah kondisi yang mungkin cuaca ekstrem bisa sejuk seperti sedia kala,” tutur Agus.
Ia juga menyampaikan harapannya agar karhutla tidak lagi terjadi di wilayah Indonesia, khususnya di Bulungan dan Kalimantan Utara. Sebab, dampaknya telah dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari memburuknya kualitas udara hingga terganggunya aktivitas belajar mengajar di sekolah.