KALIMANTAN UTARA — Connor Storrie kembali ke layar lebar lewat film "April X", proyek pertamanya setelah serial "Heated Rivalry" melambungkan namanya. Disutradarai Michel K. Parandi dalam debut panjangnya, film ini mengangkat tema kloning manusia dan perdagangan organ di masa distopia. Sayangnya, naskahnya dinilai kurang kuat meski Storrie tampil solid.
Connor Storrie memikul beban besar sebagai Baxter, pria yang terjebak dalam dunia gelap perdagangan organ di sebuah kota yang runtuh. Film ini menjadi kendaraan layar lebar pertamanya setelah popularitasnya meledak berkat serial "Heated Rivalry". Namun, "April X" bukanlah panggung yang benar-benar bisa memaksimalkan bakatnya.
Debut penyutradaraan Michel K. Parandi ini memang berhasil lolos ke bioskop, sesuatu yang mungkin tidak terjadi jika Storrie tidak sedang naik daun. Tanpa nama besar sang aktor, "April X" kemungkinan besar hanya akan mendarat langsung di platform VOD.
Latar waktu film tidak disebutkan secara spesifik, tetapi blok-blok hunian brutalist di pinggiran Bucharest, Rumania, masih berdiri kokoh. Kota itu digambarkan sebagai reruntuhan beton yang menandakan dunia yang sedang menuju kehancuran. Film ini memang mengambil lokasi syuting di ibu kota Rumania tersebut.
Di dunia yang muram ini, sepasang kembar bernama Baxter dan April (diperankan aktris Jerman Lilly Krug) bertahan hidup dengan pekerjaan-pekerjaan abu-abu. Baxter berurusan dengan pasar gelap organ, sementara April memiliki kemampuan langka: mimpinya sangat jernih dan hidup.
Di era ketika orang sudah tidak lagi bermimpi, kemampuan April menjadi komoditas yang bisa dijual. Orang-orang membayar untuk merasakan sensasi mimpi yang dialaminya. Ide ini sebenarnya menarik, tetapi tidak dieksplorasi lebih dalam oleh filmnya.
Cerita lebih banyak berfokus pada Baxter. Transaksi bawah tanahnya membawanya bersinggungan dengan gangster lokal bernama Klein, yang diperankan Serban Pavlu. Tabungan Baxter dan April tidak cukup untuk menutupi konsekuensi yang harus mereka tanggung.
April kemudian menghilang. Baxter pun memulai pencarian putus asa yang membawanya ke berbagai sudut kota. Cerita tiba-tiba melompat lima tahun ke depan, di mana dunia terlihat sama, tetapi rambut Baxter tiba-tiba lebih panjang.
April rupanya telah dikloning menjadi sejumlah pekerja seks yang identik. Pertanyaan besar film ini: mampukah Baxter menemukan jiwa saudarinya di salah satu tubuh klon tersebut, atau menanamkan kembali memori April melalui rekaman yang tersimpan? Sayangnya, karakter-karakter dalam film ini tidak digambar dengan cukup hangat atau berkarakter kuat untuk membuat penonton benar-benar peduli.
Storrie menjalani semua adegan dengan rahang terkatup dan tatapan tajam. Ia mengadaptasi ekspresi khas Harrison Ford dalam "Blade Runner", meski tidak banyak materi yang bisa ia olah. Ia tampil sebagai aktor pekerja yang menunggu proyek lebih baik datang menghampirinya.
Naskah yang ditulis Parandi bersama kolaborator rutinnya, Jack Coulter, dinilai kurang mengesankan. Mereka menyatukan potongan-potongan cerita dari film lain yang lebih baik, menghasilkan efek yang keruh dan tidak melibatkan penonton. Film ini menempati ruang genre yang mirip dengan "Hot Spot" karya Agnieszka Smoczynska.
Dari sisi teknis, "April X" sebenarnya tidak buruk. Sinematografi layar lebar Nathan Haugaard dan desain produksi Oana Novicov yang lusuh membuat film ini terlihat cukup baik. Namun, film ini kehilangan detail dan tekstur yang bisa membuat dunianya terasa nyata.
Kehidupan Baxter dan mata pencahariannya digambarkan terlalu kabur, sehingga penonton tidak bisa memberikan perhatian penuh. Alih-alih menakutkan, distopia yang ditawarkan Parandi justru terasa membosankan.
Bagi Storrie, "April X" bukanlah noda memalukan dalam resume kariernya. Film ini kemungkinan besar akan dilupakan jauh sebelum musim kedua serial "Heated Rivalry" tayang perdana. Popularitasnya yang mendadak memang berhasil membawa film ini ke bioskop, tetapi hanya penggemar paling fanatik yang mungkin akan menontonnya.
Bagi Parandi, film ini menjadi kartu nama yang lebih krusial. Ia menunjukkan kemampuan teknis yang cukup gesit di tengah anggaran yang terbatas. Namun, ia perlu naskah yang lebih kuat untuk proyek berikutnya jika ingin meninggalkan jejak yang lebih dalam di industri film.