Luca Marini Heran Orang Indonesia Selalu Makan Nasi, Sebut Pedasnya Keterlaluan

Penulis: Boyke Sihombing  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:20:31 WIB
Pebalap MotoGP Luca Marini berbicara dalam acara Meet and Greet di Alam Sutera, Tangerang.

KALIMANTAN UTARA — Pebalap MotoGP Luca Marini mengaku heran dengan kebiasaan makan orang Indonesia yang hampir selalu menyertakan nasi, apa pun lauknya. Penunggang Honda asal Italia itu juga menyoroti kegemaran menggoreng makanan dan level pedas yang dinilainya di atas rata-rata. Cerita tersebut disampaikannya saat Meet and Greet di Alam Sutera, Tangerang, jelang MotoGP Mandalika.

Adik Valentino Rossi itu baru saja tiba di Indonesia untuk menghadapi seri MotoGP Mandalika. Dalam acara Meet and Greet di Alam Sutera, Tangerang, Selasa malam (6/10), Marini berbagi pengalaman pertamanya mencermati pola makan orang Indonesia. Baginya, ada tiga hal yang langsung menonjol: nasi, gorengan, dan sambal.

Nasi Selalu Mudah Ditemukan di Mana Saja

Marini menyebut nasi sebagai teman wajib hampir semua hidangan di Indonesia. Menurutnya, berbeda dengan kebiasaan di Eropa, nasi di sini bisa dicari kapan saja dan di mana saja.

"Nasi sangat mudah ditemukan di Indonesia, ketika kami melakukan perjalanan dari negara barat ke sini, nasi selalu mudah dicari. Ya, benar sekali (kalian selalu makan apa pun dengan nasi)," ujar Marini.

Pengamatan itu muncul dari perjalanannya selama berada di Indonesia. Ia menyoroti bagaimana nasi tetap hadir bahkan saat menyantap hidangan yang di Italia lazim dimakan tanpa karbohidrat tambahan.

Hampir Semua Makanan Digoreng

Selain nasi, pebalap berusia 29 tahun itu menyoroti kebiasaan orang Indonesia menggoreng hampir semua jenis bahan makanan. Ia menyebut seafood hingga ayam sebagai contoh yang paling sering ia temui.

"Kalian sangat suka menggoreng semua makanan. Seafood, digoreng. Ayam, juga digoreng. Tapi tidak apa-apa lah," tuturnya.

Menurut Marini, pola pengolahan seperti itu cukup berbeda dengan yang biasa ia jumpai di negara-negara Eropa, termasuk Italia. Di sana, kata dia, makanan laut lebih sering diolah dengan cara direbus, dipanggang, atau disajikan mentah.

Level Pedas yang Dinilai Keterlaluan

Cita rasa pedas juga menjadi perhatian Marini. Meski tidak hafal nama-nama makanan pedas khas Indonesia, ia mengaku sempat kaget dengan tingkat kepedasannya.

"Saya tidak terlalu hapal soal nama-nama makanan pedas di Indonesia. (Makanan) kalian pedasnya benar-benar keterlaluan, sementara saya (makannya) sedang-sedang saja," ungkapnya.

Pebalap Honda itu mengaku lebih memilih cita rasa yang tidak terlalu menantang saat menyantap hidangan lokal. Meski begitu, ia tidak mempermasalahkan perbedaan selera tersebut.

Alasan Marini Menantikan Sirkuit Mandalika

Di sisi lain, Marini mengaku tidak sabar kembali menggeber motornya di Sirkuit Mandalika. Ia menyebut lintasan tersebut sebagai salah satu sirkuit yang paling disukainya.

"Mandalika merupakan salah satu sirkuit yang saya paling suka, terutama di sektor dua ketika saya bisa melihat laut dan menikmati atmosfer. Hal itu membuat balapan terasa sangat spesial," terangnya.

"Saya juga selalu merasa bisa melaju kencang di sana. Saya sangat menyukai balapan di kondisi panas dan saya benar-benar menyukai karakter tikungan-tikungan di Sirkuit Mandalika," kata dia menambahkan.

Kondisi panas Mandalika yang sering dikeluhkan pebalap lain justru menjadi nilai tambah bagi Marini. Ia menilai karakter sirkuit dengan tikungan cepat dan pemandangan laut di sektor dua memberi sensasi berbeda dibanding sirkuit lain di kalender MotoGP.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top