KALIMANTAN UTARA — Setelah menguji Roomba Max 775 Combo selama beberapa sesi pemakaian, satu hal yang paling menonjol justru bukan performa bersihnya, melainkan desain dock-nya yang tampak seperti furnitur kayu mahal. Robot vacuum ini dijual USD 999 di Amazon AS dan £799 di Amazon UK, bersaing langsung dengan Roborock Qrevo 2 Pro yang lebih murah USD 799 serta Dreame D10 Plus Gen 2 seharga USD 299. Sayangnya, sikat samping yang berisik dan residu saat mengepel membuat hasil kerjanya belum sepadan dengan harganya.
Roomba Max 775 Combo bukan robot vacuum terburuk yang pernah diuji, tapi juga jauh dari kata layak direkomendasikan tanpa catatan. Ada banyak hal menarik di perangkat ini, terutama soal tampilan dan kemudahan aplikasi, namun sejumlah kelemahan operasional membuat pengalaman bersih-bersih jadi kurang konsisten. Ulasan ini merangkum hasil pengujian menyeluruh di lantai kayu, karpet, dan area dapur.
iRobot memasarkan perangkat ini dalam dua pilihan warna, hitam dan putih. Harganya menempatkan Roomba Max 775 Combo di segmen premium robot vacuum yang sekaligus bisa mengepel.
Di kelas harga yang sama, Roborock Qrevo 2 Pro dibanderol USD 799 dengan ukuran serupa dan performa menyedot yang menurut pengujian justru lebih baik. Ada juga Roborock Qrevo Curv seharga USD 699 yang menawarkan mop bulat dan perawatan mandiri lebih rapi. Untuk anggaran lebih ketat, Dreame D10 Plus Gen 2 dijual USD 299 meski daya hisapnya hanya 6.000Pa dan mop harus dibersihkan manual.
Kesan pertama saat melihat Roomba Max 775 Combo adalah soal tampilannya. Panel kayu di bagian depan dock membuat perangkat ini terlihat mahal dan tidak perlu disembunyikan di sudut ruangan. Dock-nya sendiri tidak memakan terlalu banyak tempat, dengan kompartemen tangki air bersih, tangki air kotor, dan kantong debu di dalamnya.
Ada slot khusus untuk menyimpan kantong debu cadangan, plus slot di bagian atas tutup berisi sikat dua sisi dan pemotong untuk membersihkan lilitan. Aksesori tersimpan rapi, tidak berserakan di rumah.
Masalahnya ada di bodi robot yang tergolong gemuk, setinggi 4,1 inci. Ini jauh lebih tinggi dari Dreame X60 Max Ultra Complete yang hanya 1,5 inci dan Dreame D10 Plus Gen 2 setinggi 3,8 inci. Kalau rumah punya furnitur rendah, Roomba Max 775 Combo kemungkinan besar tidak bisa masuk ke kolongnya.
Setup aplikasi Roomba Home jadi pengalaman paling lancar dibanding merek lain yang pernah dicoba, termasuk Shark, Roborock, dan Dreame. Prosesnya intuitif, robot langsung terdeteksi, dan koneksi selesai dalam hitungan detik.
Beberapa pengguna di internet mengeluhkan bug pada aplikasi, tapi keluhan itu tidak muncul sama sekali selama pengujian. Semua pengaturan seperti jadwal bersih-bersih, zona larangan, debit air, dan daya hisap bisa diubah dengan mudah. Kontrolnya terasa penuh, meski pekerjaan kotor tetap ditangani robot.
Proses mapping berjalan cepat. Robot menyusuri tepi ruangan lalu membuat peta yang bisa diubah nama dan tata letaknya lewat aplikasi. Tampilan peta di layar ponsel cukup akurat, bahkan menampilkan gambar sofa.
Meski petanya terlihat rapi, Roomba tetap membentur tepi ruangan berkali-kali. Ada buffer di bagian depan untuk memantul, tapi kontak sebanyak itu tetap berisiko bagi robot maupun dinding. Masalah ini tidak ditemukan pada Roborock Qrevo Pro 2.
Keluhan terbesar ada di suara. Sebagian besar robot vacuum yang pernah diuji lebih senyap dari vacuum genggam, tapi Roomba Max 775 Combo nyaris seperti berteriak saat bekerja. Sumber suaranya bukan cuma hisapan, tapi juga roda dan sikat samping.
Sikat samping justru mendorong kotoran dan bulu menjauh dari vacuum, bukan menyapu ke arah hisapan. Setelah dikejar, kotoran akhirnya tersedot juga, tapi prosesnya menjengkelkan. Sering kali masih ada sisa kotoran tertinggal di lantai setelah sesi bersih-bersih.
Di karpet, performanya jelas lebih buruk. Hanya sekitar separuh kotoran yang terangkat, dan biji kecil paling sulit disedot. Roda yang besar ikut menghancurkan sereal hingga terinjak masuk ke serat karpet. Perangkat ini lebih cocok untuk rumah dengan lantai keras.
Pengujian mengepel dilakukan dengan menumpahkan sedikit kecap, mayones, dan lumpur di lantai dapur. Hasilnya belum memuaskan. Ada residu tipis yang tertinggal, dan pada awalnya gerakan mop terlihat seperti melukis dengan bumbu dapur alih-alih membersihkan.
Gaya mop bulat seperti pada Roborock Saros 20 lebih bisa diandalkan. Padahal mop Roomba sudah dipanaskan hingga 167ºF, jadi ekspektasinya lebih tinggi. Sisi baiknya, ada penutup yang melipat di atas mop saat melewati karpet sehingga karpet tidak basah. Fitur ini sangat berguna.
Dock Roomba Max 775 Combo tidak memakan banyak ruang dan mudah dirawat. Robot bisa mengosongkan sendiri kantong debunya, dan kantong di dock mampu menampung kotoran hingga 90 hari. Ini termasuk yang paling lama di kelasnya, setara Shark PowerDetect 2-in-1 ThermaCharged NeverTouch yang harganya jauh lebih mahal.
Tangki air tetap perlu diisi dan dikosongkan sesuai kebutuhan, tapi larutan pembersih keluar otomatis dengan takaran yang tepat. Mop punya siklus self-cleaning di dock memakai air panas 167ºF, lalu dikeringkan dengan udara panas. Artinya, tangan lebih jarang menyentuh mop kotor.
Roomba Max 775 Combo sulit direkomendasikan secara mutlak. Perangkat ini masih pilihan yang cukup masuk akal kalau seluruh rumah memakai lantai keras, karena desainnya benar-benar enak dilihat dan aplikasinya mudah dipakai. Dock dengan perawatan 90 hari serta penutup mop jadi nilai tambah nyata.
Namun sikat samping yang berisik dan mendorong kotoran, residu saat mengepel, serta bodi gemuk yang tidak bisa masuk kolong furnitur rendah membuat harganya terasa kurang sepadan. Untuk uang yang sama, ada opsi lain dengan performa menyedot lebih baik. Perangkat ini bukan yang terburuk, tapi bukan yang terbaik juga.