KALIMANTAN UTARA — BYD menembus lima besar penjualan mobil terlaris di Indonesia sepanjang Januari–September 2026 dengan 43.727 unit wholesales dan pangsa pasar 6,4 persen. Pencapaian pabrikan asal China itu mengancam dominasi Toyota yang tetap di posisi pertama lewat 197.809 unit dan pangsa 29,1 persen berdasarkan data Gaikindo.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merilis data penjualan wholesales periode Januari–September 2026. BYD menjadi satu-satunya merek listrik asal China yang berhasil masuk jajaran lima besar penjualan mobil nasional. Angka 43.727 unit itu setara 6,4 persen dari total pasar mobil Indonesia sejak awal tahun.
Pencapaian tersebut menandai pergeseran peta kompetisi di pasar otomotif nasional. Merek yang selama ini identik dengan kendaraan berbahan bakar fosil harus berbagi ruang dengan pemain EV baru. Toyota masih memimpin dengan 197.809 unit, tetapi pangsa pasarnya 29,1 persen menunjukkan dominasi yang mulai tergoyahkan.
Data Gaikindo memperlihatkan komposisi yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. BYD bukan lagi pemain pinggiran di segmen EV, melainkan sudah masuk liga utama penjualan mobil nasional.
Selisih Toyota dan BYD memang masih jauh. Namun kehadiran BYD di lima besar menunjukkan penetrasi kendaraan listrik di Indonesia berjalan lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
BYD mengandalkan lini produk EV dengan harga kompetitif untuk pasar Indonesia. Model-model seperti Seal, Atto 3, dan Dolphin menyasar segmen menengah yang selama ini dikuasai mobil konvensional. Jaringan dealer yang terus diperluas turut mempercepat penetrasi merek ini ke luar Jabodetabek.
Faktor lain adalah insentif pemerintah untuk kendaraan listrik. Regulasi yang mendukung EV, termasuk kemudahan pajak dan infrastruktur pengisian daya, memberi ruang tumbuh bagi merek seperti BYD. Konsumen Indonesia mulai melirik EV bukan lagi sekadar soal gaya, tetapi hitungan biaya operasional harian yang lebih murah.
Toyota masih nyaman di puncak dengan hampir sepertiga pasar. Namun angka 29,1 persen itu patut dicermati. Di segmen tertentu, terutama SUV compact dan MPV menengah, geliat EV mulai menggerus pangsa mobil bensin.
Pabrikan Jepang menghadapi dilema. Mereka perlu menjaga penjualan model konvensional yang masih jadi tulang punggung, sekaligus mempercepat elektrifikasi lini produk. Toyota sendiri sudah mulai menjual model hybrid di Indonesia, tetapi belum seagresif BYD dalam menggarap segmen EV murni.
Persaingan yang memanas menguntungkan pembeli. Merek-merek EV baru cenderung menawarkan fitur lebih kaya dengan harga bersaing untuk merebut pangsa pasar. Toyota dan pemain Jepang lain diprediksi merespons dengan penyesuaian harga atau penambahan fitur pada model-model andalan.
Pilihan kendaraan listrik di Indonesia juga semakin beragam. Jika sebelumnya konsumen hanya punya beberapa opsi EV, kini merek-merek China, Jepang, dan Eropa berlomba menghadirkan model di berbagai segmen harga.
Data Gaikindo ini baru mencakup sembilan bulan pertama 2026. Tren tiga bulan terakhir bisa mengubah komposisi akhir tahun. BYD berpotensi menambah pangsa jika pasokan unit dan jaringan layanan purnajualnya terus membaik.
Toyota di sisi lain punya modal besar berupa jaringan dealer luas dan loyalitas konsumen yang terbangun puluhan tahun. Pertarungan di sisa tahun ini akan menunjukkan seberapa serius ancaman EV China bagi raja pasar mobil Indonesia.