KALIMANTAN UTARA — Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah mengalami penurunan sebanyak 89 poin atau 0,52 persen dari posisi sebelumnya, setelah dibuka pada level Rp17.489 per dolar AS. Tren pelemahan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga mengalami depresiasi terhadap dolar AS, di mana yuan China turun 0,01 persen dan peso Filipina melemah 0,50 persen.
Selain rupiah, beberapa mata uang utama negara maju juga mengalami pelemahan. Euro merosot 0,17 persen, poundsterling Inggris turun 0,18 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,24 persen terhadap dolar AS. Hanya dolar Hong Kong yang mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,01 persen.
Lukman Leong, analis mata uang dari Doo Financial Futures, mengungkapkan bahwa ketidakpastian yang meningkat akibat situasi geopolitik, khususnya ketegangan antara AS dan Iran, menjadi salah satu faktor yang menekan nilai rupiah. "Investor juga menunggu data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini, yang bisa memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi ekonomi domestik," ujarnya.
Menurut Lukman, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada hari ini. "Sentimen negatif yang datang dari pengumuman MSCI juga dapat memberikan dampak pada IHSG dan turut menekan nilai tukar rupiah," tambahnya.
Dengan kondisi ini, para investor perlu mewaspadai fluktuasi nilai tukar dan dampaknya terhadap portofolio mereka. Ketidakpastian global menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam strategi investasi saat ini.