KALIMANTAN UTARA — Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan yang bervariasi dari mata uang utama kawasan Asia. Data perdagangan pagi ini menunjukkan yuan China dan peso Filipina berhasil mencatatkan penguatan. Sementara itu, sejumlah mata uang lainnya seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Hong Kong kompak berada di zona merah.
Di sisi lain, tekanan terhadap dolar AS juga terasa di negara maju. Seluruh mata uang utama di Eropa dan Asia-Pasifik, mulai dari euro, poundsterling Inggris, hingga dolar Australia dan Kanada, tercatat melemah terhadap greenback pada pagi hari ini.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidatif pada perdagangan hari ini. Ia menilai pelaku pasar masih bersikap wait and see menjelang rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I-2025 Indonesia.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS. Investor wait and see rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I Indonesia," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Selain faktor domestik, sentimen global juga masih membayangi. Pelaku pasar disebut masih mengantisipasi respons Iran terhadap proposal terbaru yang diajukan oleh Amerika Serikat. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kerap menjadi katalis penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah terhadap dolar AS pada hari ini akan berada dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.750. Level tersebut menjadi acuan bagi pelaku pasar untuk menentukan strategi perdagangan jangka pendek.
Bagi importir dan pelaku bisnis yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, pelemahan rupiah tentu meningkatkan beban biaya. Sementara itu, investor di pasar keuangan akan mencermati data neraca transaksi berjalan sebagai indikator fundamental kesehatan ekonomi Indonesia.