KALIMANTAN UTARA — Muamar bukanlah pegawai bank. Tiga tahun lalu, ia hanyalah nasabah biasa yang sering bertransaksi menggunakan layanan BRI. Frekuensi aktivitas keuangannya yang tinggi membuat pihak bank menawari kerja sama menjadi agen resmi BRILink.
Tawaran itu tidak langsung ia terima. “Awalnya saya nasabah biasa tapi karena transaksinya banyak akhirnya saya ditawari menjadi agen BRILink. Tapi saya enggak langsung mengiyakan. Tanya dulu apa kerugian dan keuntungan ke temen-temen,” kata Muamar kepada iNews.id.
Setelah mempertimbangkan masukan dari sesama agen, ia memutuskan mengambil peran itu. Keputusan tersebut kini terbukti tepat. Kiosnya menjadi salah satu titik transaksi tersibuk di kawasan Pasar Babelan.
Setiap hari, sedikitnya 50 transaksi khusus BRI mengalir di kios milik Muamar. Angsuran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi layanan yang paling sering digunakan, disusul cicilan kendaraan bermotor dan mobil.
“Kebanyakan sih pedagang ya karena lokasi saya kan dekat dengan pasar. Sehari saja khusus BRI aja ada 50 yang melakukan transaksi di sini,” ujar Muamar.
Posisi kios yang persis di jalur ramai pasar tradisional membuat pedagang lebih memilih menyetor angsuran di tempat Muamar daripada harus menyisihkan waktu pergi ke kantor bank yang jaraknya lebih jauh. Kecepatan dan kemudahan menjadi alasan utama.
Menjadi agen BRILink bukan sekadar menyediakan mesin EDC. Muamar harus menjaga kepercayaan puluhan pedagang yang setiap hari menitipkan uang setoran dan pembayaran cicilan. Reputasi itu dibangun perlahan selama tiga tahun terakhir.
Menurut Muamar, mayoritas pengguna jasanya adalah pedagang pasar yang membutuhkan layanan cepat dan dekat dengan tempat jualan. Mereka datang sejak pagi, saat pasar mulai ramai, dan transaksi baru benar-benar suru menjelang sore.
Keberadaan agen seperti Muamar menjadi solusi bagi warga pasar yang tidak memiliki waktu luang untuk mengurus administrasi perbankan di kantor cabang. Dengan begitu, arus uang di pasar tradisional tetap berputar tanpa hambatan birokrasi.