43 Ekor Hiu Gangga Nyaris Punah Ditemukan di Sungai Sesayap Kaltara, Peneliti: Ini Habitat Terakhir Dunia

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Senin, 25 Mei 2026 | 11:52:46 WIB
Tim gabungan berhasil mendokumentasikan 43 ekor Hiu Gangga di Sungai Sesayap, Kaltara.

TANA TIDUNG — Tim gabungan dari Universitas Hasanuddin (Unhas), James Cook University Australia, dan Universitas Borneo Tarakan hanya butuh waktu kurang dari tiga pekan di tahun 2023 untuk mendokumentasikan puluhan individu hiu air tawar yang sangat langka itu. Angka tersebut langsung mengukuhkan Sungai Sesayap sebagai salah satu benteng terakhir spesies yang masuk kategori Critically Endangered (Sangat Terancam Punah) versi IUCN.

Hiu yang Hanya Muncul Kurang dari 10 Kali Sejak 2000

Data historis menunjukkan, sejak tahun 2000, kemunculan Hiu Gangga tercatat kurang dari sepuluh kali di seluruh wilayah persebaran aslinya—membentang dari Pakistan hingga Myanmar. Karena itu, penemuan 43 ekor di satu lokasi dalam waktu singkat disebut sebagai fenomena langka yang memberi harapan baru bagi konservasi global.

“Temuan ini adalah tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang dapat diterima masyarakat,” ujar Prof. Rohani Ambo Rappe, perwakilan Rektor Unhas, dalam keterangannya di Makassar, Senin (25/5). Ia menambahkan bahwa keterlibatan Unhas sejak 2022 bertujuan mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan berjalan beriringan.

Mengapa Sungai Sesayap Jadi Kunci?

Peneliti dari James Cook University, Michael Grant, menekankan pentingnya status ISRA (Important Shark and Ray Areas) bagi Sungai Sesayap. Dengan pengakuan internasional itu, perlindungan ekosistem sungai di Kalimantan Utara diharapkan menjadi prioritas nasional maupun internasional.

Masyarakat lokal disebut sebagai elemen kunci dalam model konservasi yang dirancang tim peneliti. Mereka diharapkan menjadi bagian dari solusi perlindungan habitat, bukan sekadar penonton. “Riset ini bagian dari komitmen jangka panjang menghadirkan sains yang berdampak langsung pada persoalan lingkungan global,” kata Prof. Rohani.

Biodiversitas Indonesia di Titik Nadir dan Harapan

Temuan ini membuktikan bahwa Indonesia masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Di tengah tekanan penangkapan ikan berlebihan, polusi, dan rusaknya habitat laut yang mendorong sepertiga dari 500 spesies hiu dunia ke ambang kepunahan, kemunculan Hiu Gangga di Kalimantan Utara menjadi titik terang.

Penemuan ini sekaligus menempatkan Indonesia sebagai benteng terakhir bagi spesies-spesies yang dianggap telah hilang dari peta dunia. Kolaborasi lintas negara dan pelibatan akademisi lokal menjadi kunci utama dalam membuka ruang harapan bagi penyelamatan ekosistem air tawar masa depan.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: mediaindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top