TANA TIDUNG — Tim kolaborasi internasional dari Universitas Hasanuddin (Unhas), James Cook University, dan Universitas Borneo Tarakan (UBT) mengonfirmasi keberadaan populasi Hiu Gangga di Sungai Sesayap. Riset lapangan pada 2023 lalu itu mendeteksi puluhan individu hiu sungai yang nyaris punah tersebut hanya dalam waktu 21 hari.
Jumlah itu langsung menempatkan Sungai Sesayap sebagai area asuhan (nursery ground) yang sangat penting. Pada 2024, kawasan ini resmi ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) oleh lembaga konservasi internasional.
Spesies ini nyaris tidak pernah terdeteksi kembali dalam beberapa tahun terakhir. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan Hiu Gangga dalam status Critically Endangered, satu tingkat sebelum punah di alam liar.
Penemuan di Kalimantan Utara menjadi titik terang. Sebab, selama ini populasi hiu sungai jenis tersebut sulit dilacak akibat kerusakan habitat dan tekanan perikanan di berbagai wilayah Asia Tenggara.
Perwakilan Rektor Unhas, Prof. Rohani Ambo Rappe, menegaskan temuan ini bukan sekadar catatan ilmiah. Ia mendorong pembentukan konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar data ilmiah dan kebijakan konservasi berjalan beriringan.
“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat,” kata Prof. Rohani dalam keterangan resmi di Makassar, Senin.
Riset kolaboratif antara Unhas, James Cook University, dan UBT telah berlangsung sejak 2022. Model kerja sama lintas institusi ini dinilai efektif membuka kembali harapan bagi pelestarian biodiversitas perairan Indonesia.
Penetapan Sungai Sesayap sebagai ISRA memberi implikasi langsung pada tata kelola perikanan dan perlindungan ekosistem sungai di Kalimantan Utara. Kawasan ini kini menjadi prioritas untuk pemantauan dan perlindungan habitat hiu sungai.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan Hiu Gangga bisa menjadi indikator kesehatan sungai. Spesies ini hanya bertahan di perairan dengan kualitas air dan ekosistem mangrove yang masih terjaga.
Tim peneliti berencana melanjutkan studi populasi dan migrasi Hiu Gangga di sepanjang aliran Sungai Sesayap. Data lanjutan akan menjadi dasar penyusunan rencana aksi konservasi yang melibatkan pemerintah daerah dan komunitas nelayan.