Arsenal Hadapi Final Liga Champions 2025, 20 Tahun Luka Usai Kartu Merah Lehmann di Paris

Penulis: Boyke Sihombing  •  Kamis, 28 Mei 2026 | 02:21:02 WIB
Ribuan suporter Arsenal menuju Budapest menyaksikan final Liga Champions 2025.

KALIMANTAN UTARA — Dua dekade setelah kekalahan dramatis dari Barcelona di Stade de France, Arsenal akhirnya mendapat kesempatan kedua. Ribuan suporter kembali bepergian dengan penuh harap, kali ini menuju Budapest, untuk final kedua klub dalam sejarah Liga Champions.

Namun, kenangan 2006 masih membekas. Kartu merah Lehmann setelah melanggar Samuel Eto'o menjadi titik balik. Wasit Terje Hauge disebut meminta maaf kepada delegasi Arsenal karena tidak memberikan keuntungan meski Ludovic Giuly mencetak gol dari bola lepas. "Kami dirampok," kata Keith Edelman, mantan managing director Arsenal, kepada Guardian.

Gol Sol Campbell Tak Cukup, Barcelona Bangkit di 15 Menit Akhir

Bermain dengan 10 pemain sejak menit 18, Arsenal justru unggul lebih dulu lewat sundulan Sol Campbell. Mereka bertahan heroik hingga menit 76, sebelum Eto'o menyamakan skor. Juliano Belletti memastikan kemenangan Barcelona empat menit berselang.

Kekalahan itu bukan sekadar hasil akhir. Itu adalah awal dari kemunduran. Robert Pires dimainkan sebagai pemain pengganti yang dikorbankan saat Manuel Almunia masuk menggantikan Lehmann. Dennis Bergkamp duduk di bangku cadangan pada laga terakhirnya. Thierry Henry hengkang ke Barcelona setahun kemudian.

Stadion Baru dan Bom Waktu Finansial

Agustus 2006, Arsenal pindah ke Emirates Stadium. Stadion baru itu seharusnya menjadi fondasi dominasi, tapi justru menjadi beban. "Kami memiliki albatros stadion di leher kami, utang £400 juta," kata seorang direktur Arsenal kala itu.

Klub kesulitan bersaing setelah Roman Abramovich dan Sheikh Mansour membanjiri Chelsea serta Manchester City dengan uang. "Kami memohon dan meminjam untuk bertahan hidup," tambahnya.

Untuk membangun stadion, Arsenal menjual 10% saham dan 50% hak internet ke Granada seharga £47 juta—sebuah kesepakatan yang disebut Edelman "luar biasa" di puncak gelembung dotcom. Nike membayar £140 juta untuk kontrak jersey 10 tahun, Emirates £100 juta untuk hak penamaan, dan Barclays meminjamkan £120 juta. "Itu perjalanan yang mendebarkan," ujar Edelman.

Pemperkuat yang Pergi: dari Cole hingga Fabregas

Akibat tekanan finansial, Arsenal kehilangan pemain kunci. Ashley Cole pergi ke Chelsea karena selisih gaji £5.000 per minggu. Kolo Touré dan Gaël Clichy menyusul ke Manchester City, bersama Samir Nasri dan Emmanuel Adebayor. Robin van Persie pindah ke Manchester United, Cesc Fàbregas kembali ke Barcelona.

Arsène Wenger gagal meraih trofi antara 2005 dan 2014. "Arsène tidak bisa melakukan semua transfer sendirian tanpa David," kata Edelman, merujuk pada kepergian wakil ketua David Dein yang mendefinisikan era baru sepak bola Inggris.

Messi yang Marah dan Kebangkitan Barcelona

Di sisi lain, akar kebangkitan Barcelona sudah terlihat di Paris 2006. Xavi Hernandez dan Andres Iniesta duduk di bangku cadangan. Namun, seorang remaja berusia 18 tahun menolak merayakan kemenangan karena tidak masuk skuad. Siapa lagi kalau bukan Lionel Messi.

Kini, dua dekade kemudian, Arsenal kembali ke panggung final. Pertanyaannya: apakah luka lama akan terobati atau justru terulang?

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top