KALIMANTAN UTARA — Crystal Palace kembali menorehkan sejarah. Setelah musim lalu hanya memiliki Piala Kent sebagai satu-satunya trofi, kini mereka sukses membawa pulang Europa Conference League. Gelar ini menjadi bukti nyata transformasi klub London Selatan di bawah arahan Oliver Glasner.
Namun, kemenangan ini diwarnai spekulasi. Laga final tersebut disebut-sebut sebagai pertandingan terakhir Glasner menangani Palace. "Kami pikir ini adalah laga terakhirnya," ujar Barry Glendenning dalam podcast Football Weekly, "tapi siapa tahu dia berubah pikiran?" Pertanyaan soal masa depan pelatih asal Austria itu kini menggantung.
Di sisi lain, kekalahan Rayo Vallecano justru membuka mata banyak pihak. Klub asal Spanyol ini mendapat sorotan sebagai "wonderful throwback club" — tim dengan identitas kuat dan basis suporter fanatik yang jarang ditemui di era sepak bola modern.
Setelah pesta di Europa Conference League usai, perhatian dunia sepak bola Eropa beralih ke final Liga Champions. Arsenal akan berhadapan dengan Paris Saint-Germain dalam laga yang dinilai sebagai duel antara dua filosofi: serangan versus pertahanan.
Arsenal datang dengan ambisi menjalani musim tersukses dalam sejarah klub. Pertanyaan besar kini muncul: siapa yang layak menjadi ujung tombak, Kai Havertz atau Viktor Gyökeres? Sementara itu, PSG memiliki lini depan yang mematikan. Cara menghentikan serangan mereka akan menjadi PR utama Mikel Arteta.
Masalah kebugaran di posisi bek kanan juga menjadi faktor penentu. Kedua tim dilaporkan memiliki kekhawatiran serupa di sektor tersebut. "Ini bisa menjadi titik lemah yang menentukan siapa yang membawa pulang trofi," tambah Glendenning dalam diskusi tersebut.
Podcast Football Weekly edisi ini juga membahas rumor transfer Anthony Gordon ke Barcelona. Selain itu, jurnalis Paul Watson turut mempromosikan buku terbarunya dan menjawab pertanyaan dari para pendengar setia.