DPRD Tarakan Desak Pemkot Hapus Sistem Double Shift di Sekolah, Mutu Pendidikan Jadi Taruhan

Penulis: Boyke Sihombing  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:15:31 WIB
DPRD Tarakan mendesak Pemkot menghapus sistem double shift demi mutu pendidikan yang lebih baik.

TARAKAN — Keterbatasan ruang kelas di Kota Tarakan dinilai tidak boleh lagi menjadi alasan untuk mempertahankan sistem sekolah bergilir. Anggota Komisi III DPRD Kota Tarakan, Harjo Solaika, menegaskan bahwa praktik double shift hanya akan mengorbankan kualitas proses belajar mengajar.

“Guru bisa mengalami kelelahan, jam belajar menjadi kurang optimal, dan peserta didik kehilangan kenyamanan dalam proses pembelajaran,” ujar Harjo, Sabtu (30/5/2026).

Menurut politikus PAN itu, pertumbuhan jumlah peserta didik di Tarakan harus diantisipasi dengan perencanaan pendidikan yang matang, bukan dengan sistem sementara yang justru menurunkan mutu.

Apa Isi Regulasi Baru yang Melarang Double Shift?

Ketentuan terbaru dari pemerintah pusat tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 26 Tahun 2025 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan. Regulasi ini secara tegas mengarahkan agar sekolah hanya menyelenggarakan pembelajaran dalam satu sesi setiap hari.

Pemerintah pusat memberikan masa transisi maksimal tiga tahun bagi daerah untuk menyesuaikan diri. Harjo meminta Pemkot Tarakan bergerak cepat memanfaatkan tenggat waktu tersebut.

Langkah Konkret yang Diminta DPRD ke Pemkot Tarakan

Harjo yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kota Tarakan mendorong sejumlah langkah strategis. Pertama, pemetaan sekolah-sekolah yang mengalami kelebihan kapasitas siswa, khususnya di kawasan padat penduduk.

Kedua, pembangunan ruang kelas baru, revitalisasi gedung sekolah, dan pengembangan bangunan bertingkat harus menjadi prioritas dalam perencanaan anggaran pendidikan daerah. “Jika masih ada sekolah yang menerapkan double shift, maka harus ada langkah konkret dan target penyelesaian yang jelas,” tegasnya.

Pemerataan Mutu Sekolah Jadi Kunci Utama

Selain persoalan fisik bangunan, Harjo menyoroti pentingnya pemerataan kualitas pendidikan. Menurutnya, penumpukan pendaftar di sekolah favorit harus diurai dengan meningkatkan kualitas layanan di seluruh sekolah.

“Persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penerimaan peserta didik baru. Yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah mampu menghadirkan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh sekolah,” katanya.

Distribusi siswa yang tidak merata, lanjut Harjo, hanya akan memperparah kebutuhan akan sistem double shift di sekolah-sekolah tertentu. Ia menilai masyarakat akan memiliki kepercayaan yang sama terhadap semua sekolah jika kualitas layanan pendidikannya setara.

Fungsi Pengawasan DPRD terhadap Kebijakan Pendidikan

Sebagai wakil rakyat, Harjo menegaskan DPRD Kota Tarakan akan terus mengawasi pelaksanaan kebijakan pendidikan di daerah. Langkah ini diambil agar setiap kebijakan yang diambil tetap berpihak pada kepentingan peserta didik dan tenaga pendidik.

Menurutnya, upaya menghapus sistem double shift harus dibarengi dengan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. Tujuannya jelas: menghadirkan proses belajar yang berkualitas tanpa harus mengorbankan kenyamanan siswa dan tenaga pengajar.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: metrokaltara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top