KALIMANTAN UTARA — Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut angka ini bukan sekadar statistik. "Ini adalah wujud nyata negara hadir untuk memastikan hasil panen petani terserap dengan baik," ujarnya di Jakarta, Kamis (4/6). Menurut Rizal, keberhasilan ini adalah hasil sinergi antara petani, pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, penyuluh pertanian, serta penggilingan padi yang bekerja tanpa jeda selama musim panen.
Rizal menambahkan, realisasi tersebut menjadi bukti efektivitas kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram gabah kering. "Kebijakan ini memberikan kepastian pasar bagi petani di seluruh Indonesia," tegasnya.
Dengan serapan yang melonjak, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog kini berada di level tertinggi dalam sejarah modern pengelolaan pangan nasional. Total stok beras telah melampaui 5 juta ton, memberikan jaminan ketersediaan pangan yang kuat untuk berbagai kebutuhan.
Stok sebesar itu, menurut Rizal, bisa digunakan untuk stabilisasi harga, program bantuan pangan, hingga mitigasi bencana dan gejolak pasar. "Kami optimistis target pengadaan 4 juta ton setara beras pada 2026 bisa tercapai bahkan sebelum akhir tahun," ucapnya.
Musim panen di sejumlah wilayah strategis masih berlangsung. Bulog berencana terus mengoptimalkan penyerapan melalui sinergi yang semakin erat dengan seluruh pemangku kepentingan. Rizal menyebut capaian ini menjadi bukti Indonesia semakin kokoh menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan.
"Di tengah tantangan global, Bulog hadir sebagai instrumen negara yang memastikan hasil kerja keras petani terserap optimal, kesejahteraan petani meningkat, dan kebutuhan pangan masyarakat tetap terjamin," pungkas Rizal.
Capaian ini sekaligus memperkuat posisi Bulog sebagai buffer stock utama nasional. Dengan stok di atas 5 juta ton, pemerintah memiliki ruang fiskal dan logistik yang lebih leluasa untuk menjaga stabilitas harga beras di pasar, terutama menjelang periode paceklik atau lonjakan permintaan musiman.