Satlantas Polres Tarakan Soroti Dominasi Anak di Bawah Umur dalam Balap Liar, Edukasi Digencarkan saat MPLS

Penulis: Boyke Sihombing  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 10:42:01 WIB
Satlantas Polres Tarakan mengedepankan pembinaan dan edukasi bagi pelajar di bawah umur yang terlibat balap liar.

TARAKAN — Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Tarakan, IPTU Ardi Wisnu Pradana, mengungkapkan hampir seluruh pelaku yang diamankan dalam razia balap liar merupakan pelajar yang belum cukup umur untuk berkendara. Fakta ini mendorong pihaknya mengedepankan pembinaan dan edukasi, serta pemanggilan orang tua untuk memperkuat pengawasan dari rumah.

Mengapa Anak di Bawah Umur Mendominasi?

Patroli malam yang menjadi agenda rutin Satlantas kerap diakali para pelaku. Mereka memanfaatkan celah waktu ketika petugas belum berada di lokasi patroli untuk melancarkan aksinya. Meski demikian, polisi tidak serta-merta melakukan penahanan terhadap pelajar yang tertangkap.

"Sebagian besar yang kami amankan masih anak di bawah umur. Karena itu kami lebih mengedepankan pembinaan, edukasi, dan memanggil orang tua agar ada pengawasan dari rumah," ujar Ardi.

Edukasi Masuk Sekolah: Benteng Pencegahan Dini

Satlantas memanfaatkan momentum MPLS untuk memberikan penyuluhan kepada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Materi yang disampaikan mencakup etika berlalu lintas hingga risiko hukum dan keselamatan akibat balap liar.

“Kami tidak bosan mengingatkan bahwa balap liar itu membahayakan diri sendiri, pengguna jalan lain, bahkan masyarakat yang menonton di sekitar lokasi,” tegasnya.

Tanda-Tanda Awal yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Ardi meminta peran aktif orang tua dan guru dalam mengawasi anak-anak yang mulai menunjukkan tanda-tanda akan mengikuti balap liar. Beberapa indikasi yang patut diwaspadai antara lain melepas spion, mencopot pelat nomor kendaraan, atau mengganti knalpot dengan spesifikasi balap.

“Kalau sudah terlihat ada perubahan seperti itu, jangan dibiarkan. Pengawasan dari keluarga dan sekolah sangat penting agar mereka tidak terlibat balap liar,” tandasnya.

Selama pelaku bersikap kooperatif saat diamankan, petugas lebih mengutamakan pendekatan humanis melalui pembinaan dan edukasi. Langkah ini diambil sebagai upaya jangka panjang menekan angka balap liar di kalangan pelajar tanpa harus membawa mereka ke ranah hukum pidana. (**)

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: jelajahdaerah.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top