KALIMANTAN UTARA — Laba bersih yang dinormalisasi—tak memperhitungkan pos-pos non-reguler—bahkan mencapai Rp 11,3 triliun atau melonjak 6,2% secara tahunan. EBITDA perusahaan pelat merah ini juga terdongkrak 3,8% ke level Rp 37,5 triliun. Artinya, kemampuan Telkom menghasilkan kas dari operasional inti tetap sehat meski belanja transformasi digital terus berjalan.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut capaian ini bukan kebetulan. Pemulihan layanan seluler dan pengelolaan biaya yang lebih ketat menjadi dua mesin utama pertumbuhan. "Pencapaian tersebut semakin memperkuat optimisme kami untuk terus mempercepat transformasi sekaligus memperkuat peran Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (1/8).
Di segmen B2C yang mencakup mobile dan fixed broadband, pendapatan Telkomsel tumbuh 3,3% menjadi Rp 55,6 triliun. Pendongkrak utamanya adalah lini Digital Business Data yang naik 11%. Rata-rata pendapatan per pelanggan (ARPU) layanan mobile ikut membaik 9% menjadi Rp 45.600, didorong lonjakan konsumsi data saat libur sekolah dan gelaran Piala Dunia 2026.
Namun, jumlah pelanggan IndiHome justru menyusut dari 10,1 juta menjadi 9,5 juta pada semester I 2026. Meski begitu, ARPU IndiHome naik 3,4% secara kuartalan ke Rp 211.000, dan rasio konvergensi layanan meningkat ke 65%. Telkom menegaskan langkah ini bagian dari strategi membangun basis pelanggan yang lebih berkualitas—bukan sekadar mengejar jumlah—serta memperkuat monetisasi layanan jangka panjang.
Segmen B2B Infrastructure mencatat pertumbuhan paling tajam, yakni 19% menjadi Rp 33,1 triliun. Lonjakan ini ditopang pendapatan dari Data, Internet, dan IT Service, termasuk bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower. Anak usaha menara, Mitratel, menyumbang pendapatan Rp 4,7 triliun atau naik 2,1% year-on-year.
Telkom juga menyiapkan ekspansi di bisnis pusat data melalui NeutraDC. Langkah ini merespons meningkatnya permintaan infrastruktur digital dari korporasi dan pemerintah. "Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas layanan, mengoptimalkan monetisasi aset, serta mendorong pertumbuhan melalui kolaborasi dengan mitra strategis," tulis manajemen dalam keterangan resminya.
Dengan kombinasi pemulihan seluler, efisiensi biaya, dan pertumbuhan segmen enterprise, Telkom optimistis menjaga momentum hingga akhir tahun. Pertanyaannya sekarang: mampukah perseroan mempertahankan pertumbuhan laba di tengah persaingan harga layanan data yang masih ketat? Jawabannya akan terlihat pada laporan kuartal berikutnya.