KALIMANTAN UTARA — GIIAS 2026 bukan sekadar ajang peluncuran mobil baru. Bagi Jaecoo, pameran di ICE BSD City, Tangerang, pekan lalu menjadi ajang menunjukkan filosofi terbaru mereka: co-creation. Konsep ini diwujudkan lewat Jaecoo J5 yang dimodifikasi bersama Dendy Darman, Founder 347 Homebreaks, sebuah studio yang identik dengan gaya hidup surfing dan outdoor.
"Prinsip dari Jaecoo sendiri sekarang adalah co-creation. Kita sebuah perusahaan yang selalu melakukan kreasi lewat co-creation dengan siapa pun," ujar Mohamad Ilham Pratama, Head of Marketing JAECOO Indonesia, Minggu (2/8/2026). "Kanvas putihnya ada di J5, jadi kita ingin memberikan inspirasi baru buat masyarakat Indonesia."
Alih-alih mengubah total tampilan, kolaborasi ini justru terlihat sederhana namun matang. Ubahan paling mencolok ada di kaki-kaki. Velg standar diganti dengan model bergaya "kaleng" tertutup berwarna krem atau off-white. Ban yang digunakan juga memiliki profil dinding lebih tebal, memberi kesan siap melibas medan tidak rata—sesuai dengan karakter mobil yang ingin ditonjolkan.
"Kita terinspirasi awalnya dari surfing. Pada saat mobil ini ada, siluetnya pas banget dengan model dan gaya kita. Mobil ini sesuai dengan kegiatan kita, modelnya outdoor, tetapi masih sesuai dipakai di perkotaan dan di tempat terpencil," jelas Dendy Darman.
Fungsi menjadi prioritas utama. Di area depan, dua lampu sorot tambahan bulat bermerek HELLA terpasang di bumper. Sentuhan ini bukan sekadar gaya rally look, tetapi juga solusi penerangan ekstra saat berkendara di luar kota. Bagian atap dipasangi roof rack dengan crossbar untuk membawa dua papan selancar. Sementara di buritan, terdapat bike rack yang mengangkut satu unit sepeda—identitas pemilik yang aktif terpancar jelas dari perlengkapan ini.
Lantas, berapa biaya yang harus disiapkan untuk tampil beda seperti ini? Andre Mulyadi, Founder NMAA sekaligus Direktur Modifikasi IMI Pusat, memberikan gambaran angka. "Mungkin kurang lebih sama Thule dan segala macam, sekitar Rp 50 jutaan," jelasnya saat meninjau booth Jaecoo.
Nominal tersebut terbilang wajar untuk sebuah paket modifikasi yang mengedepankan fungsionalitas dan gaya hidup, bukan sekadar ubahan kosmetik. Komponen seperti roof rack, bike rack, dan lampu HELLA memang memiliki banderol premium, tetapi hasilnya terlihat menyatu dengan desain J5 yang sudah kuat sejak awal.
Menariknya, modifikasi ini justru mempertegas bahwa Jaecoo J5 EV sudah memiliki fondasi desain SUV yang kuat. Andre Mulyadi menilai, mobil ini tidak membutuhkan banyak ubahan untuk mencerminkan karakter pemiliknya.
"Modifikasi yang proper itu modifikasi yang aman untuk digunakan sehari-hari dan juga bisa mempersonalisasikan apa yang kita gunakan sesuai dengan styling kita sendiri dan mobilnya didandani sesuai dengan personalisasi pemiliknya," tambah Andre.
Meski konsepnya menarik, ada beberapa catatan penting. Pertama, ini adalah modifikasi yang bersifat inspiratif. Jaecoo belum mengumumkan apakah paket aksesori ala 347 Homebreaks ini akan tersedia sebagai opsi resmi dari pabrikan atau hanya kolaborasi sekali jalan.
Kedua, penambahan roof rack dan bike rack akan berdampak pada aerodinamika dan konsumsi energi. Untuk SUV listrik seperti J5, beban tambahan dan hambatan angin bisa mengurangi jarak tempuh secara signifikan. Kami belum mendapatkan data resmi mengenai pengaruh aksesori ini terhadap efisiensi baterai.
Terakhir, soal harga. Jaecoo J5 sendiri belum mengumumkan harga resmi untuk pasar Indonesia. Namun, dengan melihat tren kompetitor di kelas SUV listrik kompak, estimasi banderolnya akan berada di kisaran Rp 400 jutaan. Jika ditambah biaya modifikasi Rp 50 jutaan, total investasi yang harus disiapkan pembeli cukup besar.
Meski begitu, langkah Jaecoo ini patut diapresiasi. Di tengah gempuran SUV listrik yang seragam, mereka mencoba menawarkan pendekatan berbeda: mobil sebagai media ekspresi diri. Bagi mereka yang menginginkan kendaraan yang tidak hanya efisien tetapi juga mencerminkan gaya hidup, Jaecoo J5 dengan sentuhan 347 Homebreaks ini bisa menjadi inspirasi yang patut dipertimbangkan.