TANJUNG SELOR — Ekonomi Kalimantan Utara selama ini bertumpu pada dinamika industri pertambangan. Lewat Benuanta Economic Forum (BEF) 2026, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Kaltara mencoba menavigasi arah baru: menumbuhkan sektor di luar tambang agar pembangunan tidak timpang.
Forum yang digelar di Tanjung Selor, Selasa (4/8/2026), mengusung tema "Menavigasi Transformasi Ekonomi Kalimantan Utara Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Industri Pertambangan." Dari sini, dua agenda utama mengemuka: mempercepat hilirisasi dan memperkuat UMKM lokal.
Ketergantungan pada tambang membuat ekonomi daerah rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global. Ketika harga anjlok, efeknya langsung terasa ke pendapatan daerah dan lapangan kerja.
BEF 2026 dihadirkan sebagai ruang dialog lintas sektor. Tujuannya merumuskan langkah konkret agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati segelintir korporasi besar, tetapi menyentuh usaha kecil di akar rumput.
Salah satu poin yang mengemuka adalah pentingnya mengolah sumber daya alam di dalam negeri, bukan sekadar mengirim bahan mentah keluar daerah. Nilai tambah harus dinikmati warga Kaltara sendiri.
Langkah ini dinilai mampu membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan asli daerah. Namun, hilirisasi butuh investasi besar dan kesiapan infrastruktur pendukung.
Di sisi lain, penguatan UMKM menjadi fokus yang tidak kalah penting. Sektor ini dianggap paling cepat menyerap tenaga kerja dan mampu menjadi buffer saat industri besar melambat.
Forum ini diharapkan melahirkan rekomendasi kebijakan yang bisa dieksekusi, bukan sekadar wacana. Dukungan permodalan, akses pasar, dan pendampingan digital menjadi kata kunci yang kerap disuarakan pelaku usaha kecil.
Sinergi antara BI, pemerintah daerah, dan pelaku usaha menjadi fondasi utama. Tanpa kolaborasi yang solid, transformasi ekonomi hanya akan menjadi slogan tahunan tanpa dampak nyata di lapangan.