Googlebook OS Pertahankan Wajah Android di Perangkat Desktop

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Senin, 21 September 2026 | 20:23:31 WIB
Googlebook OS resmi diperkenalkan dengan antarmuka desktop berbasis Android.

KALIMANTAN UTARA — Googlebook OS resmi memperkenalkan sistem operasi desktop yang dibangun di atas basis Android, membawa antarmuka Pixel Launcher ke layar besar. Pendekatan ini memungkinkan pengguna smartphone Android langsung beradaptasi tanpa kurva pembelajaran berarti. Google menilai strategi ini mempercepat adopsi dibanding membangun OS dari nol.

Googlebook OS membawa sejumlah elemen khas Android ke perangkat desktop, mulai dari Quick Settings di sudut kanan atas hingga widget yang bisa dipasang di layar utama. Perubahan tata letak ini berbeda dari ChromeOS yang menempatkan pengaturan cepat di sudut bawah. Bagi pengguna Pixel, transisi ke Googlebook terasa seperti memperbesar layar ponsel ketimbang mempelajari sistem baru.

Antarmuka yang Akrab bagi Pengguna Android

Aplikasi Pengaturan di Googlebook OS identik dengan yang ada di ponsel Pixel. Google juga menyertakan Pixel Weather beserta widgetnya dan aplikasi Recorder yang terpasang bawaan. App drawer-nya pada dasarnya adalah Pixel Launcher yang diperluas ke layar desktop.

Pengguna bisa menempatkan aplikasi, widget, serta file dan folder langsung di desktop. Fitur ini menjadi peningkatan produktivitas yang tidak dimiliki ChromeOS. Widget sendiri merupakan fitur yang lama diminta pengguna ChromeOS namun baru terealisasi di Googlebook OS.

Dominasi Web App dan Trusted Web Activities

Saat membuka Gmail dan Google Calendar, Googlebook OS menjalankan versi web alih-alih aplikasi Android. Google menyebut format ini sebagai Trusted Web Activities (TWA), bukan PWA. Aplikasi didistribusikan lewat Play Store dan keunggulan utamanya adalah dukungan widget di homescreen.

Keputusan ini menegaskan garis keturunan ChromeOS pada Googlebook OS. Google memberi kebebasan kepada pengembang untuk memilih antara versi web atau aplikasi Android. Tim Gmail dan Workspace sendiri memilih menyediakan versi web dan tidak menawarkan aplikasi Android di Play Store.

Namun, keputusan ini dinilai meninggalkan peluang. Membiarkan pengembang pihak ketiga memilih memang menurunkan hambatan masuk sistem operasi baru. Meski demikian, Google dinilai seharusnya mewajibkan aplikasi pihak pertama berbasis desktop-class. Google Messages masih menggunakan versi berbasis web alih-alih aplikasi native.

Integrasi Gemini dan Fitur AI di Desktop

Pengalaman lain di Googlebook OS jelas ditenagai Android, termasuk aplikasi Google dan Gemini. Saat pengguna memanggil overlay Magic Pointer, respons muncul di aplikasi Gemini versi Android. Google melihat OS berbasis Android ini sebagai peluang memanfaatkan pekerjaan Gemini dan AI yang sudah dilakukan untuk ponsel.

Model AI on-device yang digunakan adalah Gemini Nano. Model ini menggerakkan deskripsi AI untuk screenshot yang membuka fungsi pencarian, Magic Pointer, Rambler, dan Create My Widget melalui arsitektur hybrid intelligence. Chrome di Googlebook menawarkan pengalaman lengkap mulai dari ekstensi hingga daftar tab vertikal.

Rambler dan Create My Widget

Rambler diluncurkan lewat tombol Quick Insert yang menggantikan posisi Caps Lock. Menekan tombol ini memunculkan jendela mengambang berisi akses cepat ke emoji, screenshot terbaru, dan clipboard Gboard. Rambler berada di sudut kanan bawah jendela tersebut. Fitur ini merupakan penerusan dari ChromeOS yang kini bisa diakses dengan satu tombol, bukan kombinasi tiga tombol.

Create My Widget menghadirkan generative UI di Android. Pengguna dapat membuat widget yang menarik data dari sumber langsung seperti Search. Googlebook akan memandu pengguna mengenai cara memanfaatkan fitur ini secara optimal.

Strategi Google mempertahankan basis Android di Googlebook OS berpotensi mempercepat adopsi di kalangan pengguna smartphone Android yang sudah terbiasa dengan ekosistem tersebut. Keputusan ini juga memangkas kebutuhan Google membangun ulang seluruh fondasi AI dan aplikasi untuk platform desktop.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: 9to5google.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top