Kunjungan Wisman Nunukan Naik 14,82 Persen pada Agustus 2026, BPS Soroti Lama Menginap 1,25 Hari

Penulis: Dedi Supriadi  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:16:01 WIB
BPS Kabupaten Nunukan mencatat kunjungan wisatawan mancanegara naik 14,82 persen pada Agustus 2026.

NUNUKAN — BPS Kabupaten Nunukan mencatat kenaikan kunjungan wisman dari 1.235 orang pada Juli 2026 menjadi 1.418 orang pada Agustus 2026. Selisih 183 kunjungan itu setara pertumbuhan 14,82 persen secara bulanan. Angka tersebut dirilis BPS dalam laporan resmi yang disampaikan Jumat (02/10/2026).

Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Dr. Iskandar Ahmaddien, menilai pertumbuhan jumlah kedatangan belum otomatis berdampak besar bagi perekonomian daerah. Sebab, lama tinggal pengunjung masih pendek.

Lama Menginap Masih 1,25 Hari

Rata-Rata Lama Menginap Tamu (RLMT) di hotel dan akomodasi lain Nunukan pada Agustus 2026 berada di angka 1,25 hari. Sementara Tingkat Penghunian Kamar (TPK) tercatat 23,58 persen. Kedua indikator itu menunjukkan kapasitas akomodasi belum termanfaatkan penuh.

"Pada Agustus 2026 tercatat 1.418 kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat sekitar 14,82 persen dibandingkan Juli, namun, rata-rata lama menginap masih 1,25 hari," ujar Iskandar dalam rilisnya.

Menurut Iskandar, data itu memberi gambaran bahwa tantangan daerah bukan sekadar mendatangkan lebih banyak orang. Yang lebih penting, kata dia, bagaimana aktivitas kunjungan berdampak lebih besar bagi Nunukan.

Mobilitas Lintas Batas Tak Selalu untuk Wisata

Sebagai wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia, pergerakan orang di Nunukan tidak selalu terkait kepentingan wisata. Kunjungan lintas negara juga dipicu urusan keluarga, perdagangan, pekerjaan, dan aktivitas lain.

Kondisi itu membuat peningkatan kunjungan di pintu keimigrasian menyimpan potensi yang belum tergarap. Selama ini, pengunjung yang datang untuk urusan keluarga atau pekerjaan bisa langsung pulang tanpa membelanjakan uang di Nunukan.

Jika tersedia pilihan pengalaman dan destinasi menarik, pengunjung berpeluang tinggal lebih lama. Dampaknya merembet ke penggunaan hotel, konsumsi makanan dan minuman, transportasi lokal, perdagangan, hingga pembelian produk UMKM.

Pulau Sebatik hingga Kuliner Lokal Jadi Modal

Iskandar menyebut posisi geografis Nunukan sebagai keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah. Pulau Sebatik, wisata alam dan bahari, kuliner lokal, budaya masyarakat perbatasan, serta produk UMKM dapat dikemas menjadi rangkaian pengalaman wisata terintegrasi.

"Kita mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah, yaitu posisi geografis sebagai wilayah perbatasan negara, tantangannya adalah bagaimana mobilitas yang sudah tinggi dapat dikonversi menjadi aktivitas ekonomi lokal," katanya.

Ia menambahkan, semakin banyak aktivitas pengunjung selama di Nunukan, semakin besar peluang manfaat ekonomi dirasakan pelaku usaha lokal.

"Orang datang, tinggal lebih lama, makan di Nunukan, menggunakan jasa lokal, berbelanja produk UMKM dan mengunjungi destinasi kita, di situlah data pariwisata dapat diterjemahkan menjadi peluang pembangunan ekonomi," lanjut Iskandar.

Paket 2–3 Hari dan Konektivitas Jadi Kunci

BPS menyarankan pengembangan paket perjalanan dua hingga tiga hari yang menghubungkan destinasi Nunukan dan Sebatik. Skema itu dinilai bisa mendorong pengunjung memperpanjang masa tinggal.

Konektivitas antardestinasi juga perlu dibenahi. Informasi transportasi, akomodasi, kuliner, hingga kalender kegiatan harus mudah diakses agar pengunjung bisa merencanakan aktivitas selama di Nunukan.

Penguatan kegiatan budaya, kuliner, olahraga, ekonomi kreatif, dan festival khas perbatasan disebut menjadi daya tarik tambahan. Semua itu membutuhkan keterhubungan antara hotel, restoran, pelaku perjalanan, transportasi, dan UMKM.

"Indikator keberhasilan pengembangan pariwisata ke depan sebaiknya tidak hanya dilihat dari berapa banyak orang yang datang, tetapi juga berapa lama mereka tinggal dan seberapa besar aktivitas ekonomi yang tercipta selama berada di Nunukan," jelas Iskandar.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: kaltaragrande.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top