KALIMANTAN UTARA — Harga solar yang melonjak membuat sejumlah pemilik truk diesel melirik limbah oli mesin sebagai bahan bakar alternatif yang dijuluki black diesel. Cairan ini memang bisa menyala di mesin diesel tua, tetapi statusnya ilegal untuk jalan raya dan berisiko merusak mesin modern. Biaya produksinya disebut hanya 10 hingga 20 sen per galon, jauh lebih murah ketimbang solar pompa.
Harga bahan bakar diesel yang melambung membuat sebagian pengemudi truk mencari jalan pintas. Di Texas, pemerintah negara bagian bahkan menetapkan status darurat bencana agar sejumlah pengemudi diizinkan memakai solar pertanian berwarna merah di jalan umum. Dari celah itu, muncul alternatif lain yang lebih jarang dibahas, yakni black diesel atau limbah oli mesin.
Istilah black diesel merujuk pada oli mesin bekas yang diolah ulang menjadi bahan bakar. Definisi ini juga mencakup oli hidraulik bekas dan cairan transmisi otomatis. Praktik semacam ini sudah lama dilakukan sebagian orang, bahkan sebelum harga solar menembus rata-rata 6 dolar AS per galon.
Mengolah limbah oli menjadi bahan bakar diesel tidak bisa dilakukan sembarangan. Prosesnya mirip pengolahan minyak sayur bekas, tetapi butuh pembersihan jauh lebih ketat. Beberapa perusahaan menjual perangkat penyulingan untuk kebutuhan rumahan.
PA Biodiesel Supply, misalnya, memasarkan perangkat sentrifugal Ultimate Force yang diklaim mampu menyaring partikel hingga tingkat sub-mikron. Alat itu memutar oli pada gaya gravitasi lebih dari 1.600g, dipadukan pemanas dan sistem P-trap untuk memisahkan air dari bahan bakar.
Estimasi biaya produksi satu galon black diesel berada di kisaran 10 sampai 20 sen. Angka itu hanya sebagian kecil dari harga solar di pompa. Namun, hitungan murah ini menyimpan sejumlah persoalan teknis yang tidak bisa diabaikan.
Limbah oli mesin memang dapat terbakar di mesin diesel, tetapi pembakarannya jauh lebih kotor dibanding solar ultra-low sulfur di pompa. Zat tak mudah terbakar di dalam oli, seperti abu dari kalsium, seng, fosfor, dan magnesium, meningkatkan produksi jelaga.
Jelaga itu cepat menyumbat diesel particulate filter. Sistem buang modern sudah sensitif bahkan dengan solar normal yang lebih bersih. Karena alasan inilah PA Biodiesel Supply hanya menyarankan pemakaian black diesel pada mesin diesel keluaran sebelum 2005.
Mesin yang lebih tua lagi justru lebih aman, misalnya Cummins 12 katup atau International 7,3 liter IDI. Banyak pula yang memakai black diesel pada traktor dan alat berat, meski penggunaannya di luar cakupan pembahasan ini.
Black diesel tidak dikenai pajak bahan bakar, sehingga ilegal dipakai di jalan raya. Pemerintah tidak memberi ruang bagi kendaraan yang melintas di jalan umum tanpa bahan bakar berbayar pajak. Jika tertangkap, pengemudi berisiko dikenai denda besar.
Selain soal legalitas, ada ancaman kerusakan komponen. Oli yang tidak tersaring sempurna bisa mempercepat aus injektor dan filter bahan bakar. Black diesel memang mampu melumasi pompa bahan bakar, tetapi tetap berpotensi membawa kontaminan yang fatal.
Pembakarannya juga lebih kotor dibanding solar pompa yang lebih sempurna dan tidak meninggalkan banyak endapan di knalpot. Semua faktor ini membuat black diesel bukan pilihan yang aman meski harga solar sedang mahal.
Pembahasan black diesel umumnya masih dangkal dan tidak menyeluruh. Sejumlah pengguna yang sempat dihubungi enggan berkomentar dan memilih tidak menarik perhatian. Mereka tampaknya ingin menjalankan praktik ini tanpa pengawasan.
Pemerintah sendiri bukan tanpa preseden dalam menindak pemilik truk diesel yang melanggar aturan bahan bakar. Kombinasi harga solar yang tinggi dan pengawasan yang ketat menempatkan black diesel sebagai solusi berisiko tinggi, bukan jalan keluar yang aman bagi pemilik kendaraan diesel.