Refleksi Asian Games 2026: 5 Emas Indonesia Lampaui Target Pemerintah

Penulis: Dedi Supriadi  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:47:31 WIB
Kontingen Indonesia menutup Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan 5 emas, 11 perak, dan 23 perunggu.

KALIMANTAN UTARA — Kontingen Indonesia menutup Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan 5 medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Raihan 39 medali itu melampaui target resmi pemerintah yang dipatok empat emas sebelum keberangkatan.

Emas Indonesia di Aichi-Nagoya datang dari empat cabang: bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Pemerintah menetapkan target empat emas sebelum kontingen diberangkatkan, sehingga hasil lima emas tercatat sebagai pencapaian di atas sasaran.

Meski begitu, angka itu memunculkan dua pembacaan. Sebagian pihak menilai lima emas belum sepadan dengan besarnya populasi dan potensi sumber daya manusia Indonesia. Pihak lain menekankan bahwa ukuran resmi yang dipakai adalah target pemerintah, dan target itu terlewati.

Medali Adalah Hasil Akhir, Bukan Seluruh Perjalanan

Di balik satu medali emas, ada proses panjang yang jarang terlihat penonton. Atlet berlatih sejak usia muda, pelatih bekerja dalam diam, keluarga memberi dukungan, dan federasi membangun sistem.

Ada pula kompetisi, uji coba, pemusatan latihan, nutrisi, sport science, pemulihan, dokter, fisioterapis, psikolog, fasilitas, dan pembiayaan. Ketika seorang atlet berdiri di podium, yang tampak hanyalah puncak dari rangkaian itu.

Anggaran Pelatnas Turun Tajam di Awal Persiapan

Pada awal persiapan Asian Games 2026, anggaran pelatnas dilaporkan turun signifikan dibandingkan persiapan Asian Games sebelumnya. Nilainya sekitar Rp81,04 miliar, jauh di bawah sekitar Rp389,82 miliar pada 2022.

Dalam perkembangannya, pemerintah menyesuaikan dukungan. Anggaran pelatnas naik menjadi sekitar Rp222 miliar, sementara sekitar Rp61 miliar disiapkan untuk pengiriman kontingen.

Pengalaman itu memberi pelajaran soal kepastian pembiayaan. Atlet sulit berkonsentrasi jika programnya belum pasti, pelatih kesulitan menyusun rencana jangka panjang, dan federasi butuh kejelasan untuk merancang kalender kompetisi.

Mengapa Hanya Cabang Tertentu yang Konsisten?

Lima emas Indonesia di Aichi-Nagoya berasal dari bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Empat cabang itu relatif rutin menyumbang medali di level Asia, sementara sejumlah cabang lain belum menunjukkan konsistensi serupa.

Pertanyaan "mengapa hanya lima emas" tetap sah diajukan. Namun ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: apakah semua cabang yang diharapkan meraih medali sudah mendapat persiapan memadai?

Prestasi di tingkat Asia dan dunia tidak dibangun dalam hitungan bulan menjelang pertandingan. Atlet membutuhkan latihan konsisten, kompetisi internasional, uji coba, pemantauan performa, nutrisi, pemulihan, sport science, dan program terukur.

Siklus Empat Tahun dan Gagasan Anggaran Multiyears

Jika ingin bersaing dengan China, Jepang, Korea Selatan, dan negara Asia Tenggara yang berkembang, cara berpikir perlu diubah. Asian Games bukan ajang yang bisa dipersiapkan dalam hitungan minggu, dan siklus menuju Olimpiade bahkan lebih panjang.

Idealnya, program pembinaan atlet disusun dalam siklus empat tahun atau lebih. Gagasan anggaran pelatnas multiyears menjadi arah yang tepat agar atlet dan pelatih bisa menjalankan program secara konsisten.

Ketika atlet tahu programnya terjamin, perhatiannya bisa tertuju pada satu hal: menjadi lebih baik. Lima emas Aichi-Nagoya layak dihargai, sekaligus jadi pengingat bahwa evaluasi sistem olahraga nasional tetap diperlukan.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: gonews.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top