KALIMANTAN UTARA — Sebanyak 57% pengendara Amerika Serikat mengaitkan lonjakan harga bensin dengan minat yang meningkat pada kendaraan listrik, menurut hasil jajak pendapat terbaru. Angka itu muncul saat adopsi EV di pasar AS masih tertahan di bawah 10%, jauh di belakang China yang mencapai sekitar 60% dan Eropa 23,2% pada tiga kuartal pertama tahun ini.
Jajak pendapat yang dikutip dalam laporan otomotif internasional menyebut mayoritas responden mulai mempertimbangkan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) maupun plug-in hybrid (PHEV) sebagai alternatif kendaraan harian. Meski begitu, ketertarikan itu belum berbuah penjualan.
Pasar AS memang sedang menghadapi tekanan biaya hidup yang tajam. Di California, harga solar sempat menyentuh 8 dolar AS per galon pada sebuah perjalanan darat, dan setiap pengisian tangki yang menembus tiga digit dolar langsung memicu pertanyaan ulang soal strategi kendaraan pribadi.
Kendaraan listrik sebenarnya sudah layak jadi mobil harian arus utama sejak sekitar 16 tahun lalu, ketika Nissan Leaf dan Chevrolet Volt pertama kali meluncur. Teknologi baterai dan pengalaman berkendara terus membaik, sampai-sampai banyak BEV modern dinilai lebih menyenangkan dikendarai ketimbang rival bensin atau diesel di segmennya.
Namun laju adopsi di AS justru mendatar. Presiden Donald Trump mematikan insentif dan rabat federal untuk kendaraan listrik, dan sejak itu pertumbuhan penjualan plug-in kehilangan tenaga meski harga bahan bakar sedang mahal-mahal nya.
Yang menarik, hybrid tanpa colokan tetap laku keras di AS. Pembeli tampaknya memilih jalan tengah: tetap hemat bahan bakar tanpa harus berurusan dengan pengisian daya dan jangkauan baterai.
Biaya kepemilikan BEV bekas kini berada di titik terendah dalam sejarah. Model seperti Nissan Leaf generasi awal dan Chevrolet Bolt bekas dijual dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibanding mobil bensin baru di kelas yang sama.
Perhitungan sederhana jadi alasannya. Pengendara yang menempuh jarak komuter panjang setiap hari bisa menghemat biaya bahan bakar dalam jumlah signifikan, apalagi jika pengisian dilakukan di rumah dengan tarif listrik malam.
Kendala utamanya tetap jangkauan. Leaf bekas generasi awal punya keterbatasan jarak tempuh yang membuatnya kurang praktis untuk perjalanan jauh, sehingga banyak pemilik memilih memarkirnya sebagai kendaraan kedua untuk dalam kota.
Konflik berkepanjangan di Iran terus mengganggu jalur pasokan minyak global. Ledakan pipa dan kilang, ditambah rute pelayaran yang tidak bisa dilalui, membuat harga bahan bakar sulit kembali ke level normal dalam waktu dekat.
Sejumlah negara bagian di AS mencoba menekan harga dengan memangkas pajak bahan bakar atau mengizinkan solar bersubsidi masuk ke kendaraan jalan raya. Hasilnya nihil: harga tetap stagnan atau justru naik.
Menjelang musim liburan yang biasanya mendongkrak permintaan, tekanan harga diperkirakan makin berat. Sebagian pengendara memilih mengurangi perjalanan jauh ketimbang menanggung biaya bahan bakar yang membengkak.
Ketergantungan AS pada mobil pribadi terbentuk lewat puluhan tahun pengabaian transportasi publik. Akibatnya, solusi praktis bagi banyak orang adalah membeli kendaraan yang lebih efisien, bukan beralih ke angkutan umum.
Di sisi lain, infrastruktur pengisian daya belum merata. Pengendara yang tinggal di apartemen tanpa colokan listrik pribadi masih menghadapi hambatan nyata untuk beralih ke BEV, sekalipun harga bensin terus naik.
Kombinasi harga bahan bakar tinggi, insentif yang dicabut, dan pilihan hybrid yang melimpah membuat konsumen AS bergerak hati-hati. Minat pada kendaraan listrik naik, tetapi keputusan membeli masih menunggu hitungan untung-rugi yang benar-benar masuk akal.