Ekonom ISEI Kaltara: Gejolak IHSG Tak Guncang Ekonomi Daerah, Kredit Perbankan Rp 46 Triliun Jadi Penopang

Penulis: Edi Wahyono  •  Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16:31 WIB
Wakil Ketua ISEI Kaltara Margiyono menilai gejolak IHSG tidak serta-merta mengguncang ekonomi daerah.

TARAKAN — Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan dan ancaman penurunan penilaian pasar modal Indonesia tidak serta-merta mengguncang ekonomi Kalimantan Utara. Struktur pembiayaan daerah itu bertumpu pada belanja pemerintah, kredit perbankan, dan investasi langsung, bukan pada pasar modal.

Wakil Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Kalimantan Utara, Margiyono, menilai gejolak pasar modal perlu dibaca dari kontribusinya terhadap keseluruhan pembiayaan ekonomi. Pergerakan harga saham bukan cermin utuh kondisi fondasi ekonomi.

Kredit Perbankan Kaltara Tiga Kali Lipat Pembiayaan APBN

Data yang disampaikan Margiyono menunjukkan pembiayaan melalui APBN di Kaltara berada di kisaran Rp 13 triliun. Sementara kredit perbankan per Juli mencapai sekitar Rp 46 triliun.

Angka itu menempatkan perbankan sebagai sumber pembiayaan dominan di daerah. Kredit investasi, modal kerja, hingga kredit konsumsi menjadi kanal yang menopang aktivitas ekonomi warga.

"Kalau di Kaltara, pembiayaan dari APBN itu sekitar Rp 13 triliun, sementara per Juli kemarin pembiayaan dari perbankan mencapai Rp 46 triliun," ujar Margiyono, Sabtu (31/10/2026).

Belanja Pemerintah Sifatnya Mengikat Konstitusi

Margiyono menjelaskan pembiayaan fiskal melalui APBN dan anggaran pemerintah daerah menjadi salah satu fondasi ekonomi. Belanja pemerintah dibutuhkan untuk menjalankan kewajiban negara melindungi masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kebutuhan pembangunan dinilai besar, sedangkan pendapatan pemerintah terbatas. Karena itu, peran sumber pembiayaan lain menjadi krusial.

"Fiskal itu sifatnya mengikat karena ada tugas konstitusi, yaitu pemerintah harus melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, serta mencerdaskan kehidupan bangsa," jelasnya.

Kawasan Industri Hijau Tanah Kuning Andalkan Investasi Langsung

Sumber pembiayaan berikutnya adalah investasi langsung atau foreign direct investment. Di Kaltara, proyek yang dikaitkan dengan skema itu adalah pengembangan Kawasan Industri Hijau Indonesia di Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan.

Margiyono menyebut rencana pengembangan kawasan tersebut melibatkan kerja sama pemerintah Indonesia dan Tiongkok. Investasi langsung membiayai kegiatan usaha dan proyek ekonomi secara riil, bukan sekadar pergerakan portofolio.

"Beberapa proyek strategis, kalau di Kaltara, salah satunya adalah pembiayaan kawasan industri hijau yang sedianya merupakan kesepakatan antara pemerintah RI dengan pemerintah Tiongkok," tuturnya.

Arus Modal Portofolio Paling Rentan Berubah

Berbeda dengan tiga sumber sebelumnya, pembiayaan portofolio melalui pasar modal paling mudah berubah. Karakternya sangat dinamis dan sensitif terhadap sentimen pasar keuangan global.

Margiyono menyinggung dinamika yang berkaitan dengan MSCI, lembaga penyedia indeks pasar yang menjadi acuan investor. Gejolak di pasar modal dinilai tidak otomatis mencerminkan melemahnya seluruh fondasi ekonomi Indonesia.

"Meskipun terjadi dinamika yang sangat tinggi dalam sektor keuangan global, yang bergerak itu terutama arus modal masuk dan keluar yang berkaitan dengan pasar modal," imbuhnya.

Risiko Nilai Tukar Rupiah Masih Mengintai

Margiyono mengingatkan pergerakan arus modal tetap membawa risiko bagi perekonomian nasional, khususnya nilai tukar rupiah. Modal asing yang masuk besar berpotensi menguatkan rupiah, sebaliknya arus keluar menekan nilai tukar.

Besar kecilnya dampak bergantung pada skala pergerakan modal tersebut. Pemahaman atas sumber pembiayaan yang terdampak menjadi kunci membaca gejolak pasar keuangan saat ini.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: benuanta.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top