Pengawas Disdik Tarakan Sebut Empat Lingkungan Ini Pengaruhi Karakter Anak Menuju Indonesia Emas 2045

Penulis: Edi Wahyono  •  Senin, 02 November 2026 | 05:15:31 WIB
Pengawas Disdik Tarakan, Alimin, menilai keluarga, sekolah, masyarakat, dan media berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak.

TARAKAN — Alimin menyebut pengawasan sekolah punya batas yang jelas. Siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di luar jam belajar, sehingga pembinaan tidak cukup dilakukan guru di ruang kelas.

Empat lingkungan dinilai paling berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak: keluarga, sekolah, masyarakat, dan media. Keempatnya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Empat Lingkungan yang Membentuk Pola Pikir Anak

Menurut Alimin, masing-masing lingkungan memberi kontribusi berbeda. Keluarga membentuk kebiasaan awal, sekolah memberi pendidikan dan pembinaan karakter, masyarakat menyediakan ruang pergaulan, sementara media memengaruhi cara pandang anak.

"Kalau berbicara tentang pendidikan anak, bukan sekolah saja yang berperan. Ada keluarga, masyarakat, dan media yang ikut memengaruhi mereka. Semua lingkungan itu punya pengaruh terhadap cara anak berpikir dan bertindak," ujar Alimin.

Ia menilai pengawasan orang tua tidak cukup sebatas memantau aktivitas anak di rumah. Pergaulan dan penggunaan media juga perlu diperhatikan, karena keduanya kerap luput dari perhatian.

Narkoba hingga Perkelahian Jadi Ancaman Nyata Pelajar

Alimin mengingatkan sejumlah persoalan sosial berpotensi mengganggu proses tumbuh kembang pelajar. Mulai dari penyalahgunaan narkoba, perkelahian, pergaulan berisiko, hingga tindakan yang membahayakan keselamatan diri.

Persoalan itu, katanya, butuh perhatian sejak dini. Anak perlu pendampingan agar tidak mudah terpengaruh lingkungan negatif dan mampu mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan.

"Anak-anak ini harus kita jaga dari hal-hal yang bisa merugikan masa depan mereka. Jangan sampai mereka terjerumus narkoba, terlibat perkelahian, atau melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya. Pembinaan harus berjalan agar mereka tahu mana yang baik dan mana yang berisiko," jelasnya.

Masyarakat Diminta Ikut Menjaga Lingkungan Pergaulan

Tanggung jawab tidak berhenti di keluarga dan sekolah. Alimin menyebut masyarakat punya peran menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak, termasuk menyaring informasi dan tayangan media yang dikonsumsi pelajar.

Informasi yang masuk tanpa filter, menurutnya, bisa mengubah cara pandang anak dalam menyikapi berbagai persoalan. Karena itu, pengawasan kolektif dinilai lebih efektif daripada pembinaan yang hanya bergantung pada satu pihak.

Bukan Sekadar Prestasi Akademik

Alimin menegaskan persiapan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa dilakukan mendadak. Anak-anak yang kini duduk di bangku sekolah merupakan generasi yang akan mengambil peran dalam pembangunan mendatang.

"Generasi Emas 2045 itu berkaitan dengan anak-anak yang sedang kita didik sekarang. Mereka yang akan menghadapi masa depan, jadi pendidikan karakter dan perlindungan terhadap anak harus diperhatikan sejak sekarang," tuturnya.

Kualitas generasi mendatang, lanjut Alimin, tidak cukup diukur lewat prestasi akademik. Kemampuan mengendalikan diri, menghadapi pengaruh lingkungan, menghormati orang lain, serta bertanggung jawab juga menjadi bagian penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas.

Pembinaan yang berjalan di empat lingkungan itu dinilai menjadi kunci. Tanpa dukungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pengawasan media, upaya menyiapkan generasi berkualitas menuju 2045 akan berjalan pincang.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: headlineku.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top