SKB Tarakan Terapkan Metode Andragogi, Pengalaman Kerja dan Kehidupan Peserta Didik Jadi Bahan Belajar

Penulis: Edi Wahyono  •  Sabtu, 07 November 2026 | 05:16:00 WIB
Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan Patmaria Krisnova Levryn menjelaskan penerapan metode andragogi dalam pembelajaran pendidikan kesetaraan.

TARAKAN — Peserta didik pendidikan kesetaraan di Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan tidak datang dengan latar belakang belajar yang seragam. Sebagian sudah bekerja, berkeluarga, bahkan bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah formal. Kondisi itu membuat pola pengajaran tidak bisa disamakan dengan sekolah biasa.

Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan Patmaria Krisnova Levryn menyebut pendekatan andragogi dipilih karena kebutuhan peserta didik dewasa berbeda dengan anak-anak. Tutor perlu mengenali karakter peserta lebih dulu sebelum menentukan cara menyampaikan materi.

Mengapa Pembelajaran Orang Dewasa Tidak Bisa Dituntun Seperti Anak Sekolah

Patmaria menegaskan pola pengajaran di SKB sengaja dibedakan dari pendidikan formal. Peserta didik dewasa tidak bisa diperlakukan sebagai murid yang harus dituntun langkah demi langkah.

"Pola pembelajaran kita tentu berbeda dengan pembelajaran anak-anak. Pembelajaran orang dewasa tidak bisa kita mengajarkan mereka yang harus benar-benar kita tuntun," ujarnya.

Pengalaman hidup peserta justru dijadikan modal belajar. Tutor tidak hanya menyampaikan teori, tetapi menghubungkannya dengan aktivitas dan persoalan yang dekat dengan keseharian peserta.

"Pembelajaran orang dewasa ini untuk mereka, kami lebih menekankan bagaimana pembelajaran itu kena dengan pengalaman nyatanya mereka. Pengalaman mereka sehari-hari yang kita angkat," kata Patmaria.

Materi yang Dekat dengan Kehidupan Dinilai Lebih Mudah Diterima

Dengan cara itu, peserta didik diharapkan tidak sekadar menghafal materi. Mereka diminta memahami manfaat pelajaran dalam kehidupan nyata. Materi yang berkaitan dengan pengalaman dinilai lebih mudah diterima dibanding pendekatan ala sekolah formal.

"Kalau kita memberikan pembelajaran yang sama dengan formal, mereka akan merasa gimana ya. Tapi kalau kita memberikan pembelajaran dan pembelajaran itu berhubungan dengan kehidupan mereka, pasti mereka akan paham," ungkap Patmaria.

Penerapan andragogi turut mengubah peran tenaga pendidik. Tutor tidak cukup menguasai materi, tetapi harus mampu membangun komunikasi, menggali pengalaman peserta, dan menciptakan suasana belajar yang membuat mereka nyaman berpartisipasi.

Pelatihan Khusus untuk Tutor Jadi Kunci

SKB menaruh perhatian pada peningkatan kapasitas pendidik. Pemahaman soal metode pembelajaran orang dewasa perlu diperkuat lewat pelatihan khusus agar tutor sanggup menghadapi peserta dengan latar belakang beragam.

"Ini yang butuh pelatihan khusus. Kami mencoba mengubah bagaimana pembelajaran pendidikan orang dewasa itu seperti apa. Bagaimana cara kita memuliakan mereka dengan berbagai karakter mereka," jelas Patmaria.

Pendekatan yang tepat dinilai penting agar peserta didik tidak merasa kembali bersekolah sebagai beban. Sebagian dari mereka harus membagi waktu antara belajar, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga.

Lewat metode yang lebih kontekstual, SKB berharap pendidikan kesetaraan menjadi ruang belajar yang relevan dengan kebutuhan peserta. Pengalaman yang diperoleh di luar sekolah tidak dipisahkan dari pendidikan, melainkan dimanfaatkan untuk memperkaya proses pembelajaran.

"Yang kami lakukan adalah menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan mereka. Ketika materi itu dekat dengan kehidupan peserta didik, pembelajaran akan lebih mudah diterima dan lebih bermakna bagi mereka," tutup Patmaria.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: headlineku.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top