TARAKAN — Executive Director M4CR Project yang juga Sekretaris Ditjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan Muhammad Zainal Arifin menyampaikan hal itu dalam Media Gathering M4CR 2026 di Kota Tarakan, Rabu (4/11). Menurut Zainal, konsentrasi target di Bumi Taka bukan tanpa alasan. Kawasan pesisir Kaltara dinilai punya peran besar dalam menjaga bentang mangrove nasional.
Rehabilitasi yang dijalankan M4CR tidak berhenti pada penanaman fisik mangrove. Program ini merangkai pemulihan ekologi dengan pemberdayaan pohon mangrove dan perikanan di lahan hutan mangrove, seperti budidaya kepiting, udang, dan aneka ikan.
Hibah Rp 534 Juta untuk Lima Kelompok Masyarakat
Untuk memicu peran aktif warga, proyek meluncurkan skema Matching Grant berupa hibah bantuan usaha produktif. Bantuan senilai Rp 534 juta diberikan kepada lima kelompok masyarakat yang proposal usahanya telah lolos verifikasi dan penilaian komite investasi.
Kemenhut melalui M4CR memastikan tidak melepas kelompok penerima hibah begitu saja. Evaluasi dan pemantauan berkala tetap dilakukan untuk memastikan program berjalan berkelanjutan.
"Pastinya tetap kita monitor. Jadi, yang sudah kita berikan hibah itu, apakah dia berkembang, apakah dia statis, atau bahkan mungkin bisa jadi non-aktif," ujar Zainal.
Ekologi dan Sosial Ekonomi Jadi Concern Utama
Zainal menegaskan, kegiatan M4CR tidak semata-mata melakukan rehabilitasi mangrove. Ada tujuan lain yang menempel pada program, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
"Kegiatan M4CR tidak hanya semata-mata untuk melakukan rehabilitasi mangrove, tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi, concern kita di ekologi dan juga sosial ekonomi," ujarnya.
Pendekatan itu membuat program tidak hanya diukur dari luas area yang ditanami. Keberhasilan juga dilihat dari apakah usaha warga penerima hibah tumbuh dan memberi penghasilan tambahan bagi keluarga nelayan.
KKMB Tarakan, Rumah 40 Bekantan di Mangrove 22 Hektare
Media Gathering M4CR 2026 di Kaltara diikuti 18 warga ibu kota dan 20 wartawan lokal. Rangkaian acara berlangsung dari 2 sampai 4 Oktober, diisi diskusi serta testimoni kelompok tani dan masyarakat.
Pada hari terakhir, kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) di Desa Karang Rejo, Tarakan Barat. Kawasan ini menyimpan hutan mangrove seluas 22 hektare yang dihuni 40 ekor bekantan, monyet endemik berhidung panjang khas Kalimantan.
Bagi Kaltara, konsentrasi target M4CR mendorong pengelolaan pesisir berjalan berlapis: pemulihan mangrove, penguatan usaha warga, dan penjagaan habitat bekantan di kawasan konservasi.