KALIMANTAN UTARA — WhatsApp memperkenalkan fitur kendali orang tua bagi akun remaja, memungkinkan orang tua mengatur privasi dan memantau aktivitas anak tanpa bisa membaca isi percakapan. Fitur opsional ini diklaim dirancang untuk disiapkan bersama antara orang tua dan remaja, dengan pengaturan default untuk pengguna di atas 13 tahun.
WhatsApp menambahkan lapisan pengawasan baru bagi keluarga. Fitur kendali orang tua ini memberi orang tua kendali atas sejumlah pengaturan akun remaja, mulai dari siapa yang boleh melihat foto profil hingga siapa yang bisa menambahkan anak ke grup.
Pengumuman disampaikan WhatsApp melalui keterangan resmi pada Rabu (30/9). Perusahaan menegaskan fitur ini bersifat opsional dan fleksibel, bukan kewajiban yang otomatis aktif di semua akun remaja.
Apa Saja yang Bisa Diatur Orang Tua
Orang tua dapat menentukan siapa saja yang bisa melihat foto profil anak dan siapa yang diizinkan menambahkan mereka ke grup. WhatsApp juga mengirimkan notifikasi ketika anak bergabung atau keluar dari sebuah grup, sehingga orang tua tetap tahu dengan siapa anak mereka terhubung.
Kontrol lain mencakup pilihan bagaimana anak menggunakan Saluran (Channels), siapa yang bisa melihat pembaruan Status anak, serta siapa saja yang bisa melihat pembaruan Status tersebut. Orang tua juga bisa mengatur pengalaman Meta AI yang sesuai untuk anak mereka.
Untuk Meta AI, WhatsApp menetapkan pengaturan default bagi remaja di atas 13 tahun, dengan opsi tambahan yang lebih ketat bila orang tua ingin membatasi lebih jauh. Seluruh pengaturan ini nantinya bisa disesuaikan atau dinonaktifkan dengan satu PIN.
Enkripsi Tetap Batasi Akses Orang Tua
Meski mendapat kendali lebih besar, orang tua tidak bisa melihat isi percakapan atau panggilan anak. Enkripsi end-to-end yang jadi fondasi WhatsApp tetap berlaku penuh, sehingga konten komunikasi pribadi tidak bisa diakses siapa pun, termasuk orang tua.
"Semua kendali ini dirancang untuk mendukung percakapan terbuka tentang cara menggunakan WhatsApp antara orang tua dan remaja, sambil tetap menjaga pesan pribadi semua orang," kata WhatsApp dalam keterangannya.
Pendekatan ini menempatkan fitur kendali orang tua WhatsApp berbeda dari aplikasi pemantauan pihak ketiga yang biasanya membaca isi chat. WhatsApp memposisikannya sebagai alat pendamping, bukan alat pengawasan penuh.
Tekanan Regulator di Balik Fitur Ini
Pengamat media sosial Matt Navarra menilai kehadiran fitur ini lebih sebagai pemenuhan kewajiban di tengah tekanan yang terus mengarah ke Meta. Regulator di berbagai negara semakin mendesak platform memperbaiki perlindungan anak.
"Meta sedang berupaya menunjukkan kepada regulator bahwa kami memiliki sistem keamanan anak, kami memiliki kontrol orang tua, dan kami sedang menerapkannya di seluruh platform kami," kata Navarra, dikutip dari BBC pada Kamis (1/10).
Menurut Navarra, sifat fitur yang opsional justru menguntungkan Meta. Perusahaan bisa mengurangi kewajiban memverifikasi usia karena tanggung jawab tersebut sebagian dibebankan kepada orang tua dan anak masing-masing.
"Saya rasa pertanyaan besar yang belum terjawab adalah apakah cukup banyak keluarga yang benar-benar akan menggunakannya," tambahnya.
Posisi WhatsApp di Tengah Wacana Larangan Medsos Anak
Sejumlah pemerintah negara tengah menggodok wacana melarang anak di bawah 16 tahun mengakses media sosial, lengkap dengan kewajiban verifikasi usia yang efektif bagi semua platform. WhatsApp untuk saat ini dikecualikan dari larangan tersebut karena pemerintah menilainya sebagai layanan perpesanan, bukan media sosial.
Pengecualian itu membuat posisi WhatsApp relatif aman dibanding platform media sosial lain milik Meta. Namun fitur kendali orang tua ini tetap menunjukkan bahwa tekanan regulasi soal perlindungan anak menjangkau seluruh lini layanan perusahaan.
Bagi pengguna Indonesia, fitur ini berpotensi relevan mengingat WhatsApp masih menjadi aplikasi perpesanan dominan di pasar lokal. Belum ada keterangan resmi soal jadwal rollout fitur kendali orang tua ini ke Indonesia maupun daftar negara yang mendapatkannya lebih dulu.