KALIMANTAN UTARA — Christian Pulisic kini bukan lagi pusat perhatian di AC Milan maupun timnas Amerika Serikat. Pemain sayap berusia 28 tahun itu mulai tersisih oleh generasi muda yang menuntut menit bermain lebih besar, baik di klub maupun di level internasional.
Pulisic menjalani musim keempatnya bersama Milan dengan awal yang tidak mulus. Cedera microfracture pada kaki bagian bawah yang ia alami saat membela timnas AS di Piala Dunia musim panas lalu membuatnya absen dari daftar starter Ruben Amorim. Ia baru pertama kali menjadi starter di Serie A pada pertengahan September.
Dalam laga melawan Sassuolo, Pulisic kembali bermain di posisi favoritnya sebagai winger kanan di bawah Gonçalo Ramos. Namun, kontribusinya belum berdampak besar bagi Milan.
Statistik Pulisic di Milan: 43 Gol, 28 Assist, tapi Hanya Satu Trofi
Sejak bergabung pada Juli 2023, Pulisic mencatat 43 gol dan 28 assist dari 138 penampilan bersama Milan. Angka itu terbilang produktif untuk seorang pemain sayap.
Namun, prestasi timnya jauh dari memuaskan. Milan hanya meraih satu trofi dalam periode tersebut, yakni Supercoppa Italia 2025 yang digelar di Arab Saudi. Kontras antara catatan pribadi dan pencapaian kolektif ini menjadi gambaran perjalanan Pulisic di Italia.
Pada laga melawan Sassuolo, Pulisic menjadi pemain Milan dengan jarak tempuh terjauh di babak pertama, mencapai 5,3 kilometer. Ia juga terlibat dalam proses terciptanya satu-satunya gol Milan, melepaskan umpan sebelum assist Luka Modric.
Meski begitu, satu-satunya tembakan Pulisic diblok, dan peluang yang ia ciptakan berhasil digagalkan kiper sebelum Samuel Chukwueze bisa melepaskan shot berbahaya. Dalam 22 penampilan terakhirnya di Serie A, Pulisic hanya mencatatkan gol atau assist di empat laga.
Alpha Cissè Menggeser Posisi Pulisic di Starting XI Milan
Pada menit ke-77 melawan Sassuolo, Amorim menarik Pulisic dan memasukkan Alpha Cissè. Keputusan itu mencerminkan arah baru lini serang Milan.
Cissè, yang didatangkan dari Hellas Verona musim panas ini, langsung menjadi sorotan. Pemain berusia 19 tahun itu telah mencetak dua gol dalam 242 menit di Serie A. Sementara Pulisic, yang kini mengoleksi 190 menit di bawah Amorim, baru mencetak satu gol.
"I love Cissè. I love Cissè," ujar Amorim pada akhir Agustus, dikutip dari laporan tersebut.
Meski mulai tersisih, Milan dikabarkan masih ingin memperpanjang kontrak Pulisic. Gazzetta dello Sport melaporkan bahwa ia menjadi salah satu dari tiga pemain kunci yang ingin dipertahankan klub di era Amorim.
Pulisic Tetap Ingin Bertahan di Milan
Pulisic sendiri menyatakan kebahagiaannya berada di Milan. Dalam sesi meet-and-greet di San Siro, ia menyampaikan keinginannya untuk bertahan.
"Saya hanya bisa bilang bahwa saya sangat bahagia di Milan saat ini dan untuk waktu dekat juga," kata Pulisic. "Jadi, ya, saya tidak memikirkan perpanjangan kontrak, tapi saya sangat bahagia di sini. Saya ingin bertahan di Milan."
Musim lalu, Pulisic memimpin Milan dengan 17 gol di semua kompetisi. Catatan itu menjadi modalnya untuk tetap diperhitungkan di skuad Amorim.
Timnas AS di Bawah Pochettino: Pulisic Tersisih oleh Talenta Muda
Situasi serupa terjadi di timnas Amerika Serikat. Pelatih Mauricio Pochettino membuka era baru dengan memanggil 13 prospek muda, tanpa menyertakan Pulisic yang baru pulih dari cedera.
Pochettino memberikan debut kepada sejumlah penyerang remaja yang haus menit bermain. Cavan Sullivan mencetak gol pembuka melawan Meksiko, sementara pemain sayap seperti Mathis Albert dan Zavier Gozo memulai perjalanan karier internasional mereka.
Di bawah Pochettino, Pulisic kesulitan. Ia hanya mencetak satu gol sejak awal 2025, yakni dalam laga persahabatan melawan Senegal. Penampilannya di Piala Dunia juga jauh dari impresif, dan Pochettino enggan mengomentari situasi Pulisic secara langsung.
Pulisic masih memiliki modal untuk bangkit. Ia dikenal pekerja keras dan mampu menciptakan ancaman dari sentuhan-sentuhan krusialnya. Namun, setelah bertahun-tahun menjadi fokus utama Milan dan timnas AS, ia kini harus beradaptasi dengan peran baru yang lebih terbatas.