Barcelona memastikan gelar juara La Liga 2025/2026 usai menaklukkan Real Madrid 2-0 di El Clasico, Minggu (18/5). Kemenangan ini tidak hanya mengunci titel ke-29 mereka, tetapi juga melahirkan catatan sejarah unik untuk Joao Cancelo.
Laga di Camp Nou berjalan panas sejak menit awal. Dua gol di babak pertama sudah cukup untuk mengubur harapan Madrid. Ferran Torres dan Robert Lewandowski menjadi pencetak gol, sementara lini belakang Barcelona yang diperkuat Gerard Martin dan Pau Cubarsi tampil disiplin menahan gempuran Jude Bellingham dkk.
Menit 88 menjadi momen spesial untuk Joao Cancelo. Putra dari Colum Fordham, Alex, mencatat bahwa full-back Portugal ini menjadi pemain pertama yang memenangi empat liga top Eropa. Sebelum Barcelona (La Liga), ia juara Serie A bersama Juventus (2019), Premier League bersama Manchester City (2021/22/23), dan Bundesliga bersama Bayern Munich (2023).
Cancelo juga pernah menjuarai liga Portugal bersama Benfica. Prestasi ini melengkapi perjalanan kariernya yang sempat terombang-ambing setelah dipinjamkan Bayern dan Barcelona sebelum akhirnya dipermanenkan.
Jude Bellingham menjadi simbol frustrasi Madrid. Pada menit 53, ia harus dijahit setelah terkena sikut Eric Garcia. Wajahnya murung sepanjang laga. "Jude, seperti sepanjang pertandingan, terus memasang wajah seperti badai," tulis jurnalis yang meliput langsung.
Tak hanya Bellingham, Trent Alexander-Arnold dan Camavinga juga mendapat hukuman. Camavinga bahkan menjadi pemain pertama yang diganjar kartu kuning karena tekel keras ke Dani Olmo. Madrid tampil tanpa koherensi—seperti ditulis Tim Steppard, "Mereka lebih mirip keluarga Kerajaan Inggris ketimbang klub sepak bola."
Marcus Rashford, yang dipinjamkan ke Barcelona dari Manchester United, menunjukkan sekilas kualitasnya. Pada menit 38, ia berlari kencang dari setengah lapangan sendiri dan memaksa Thibaut Courtois melakukan penyelamatan gemilang. "Pemain yang aneh," komentar Matt Dony, pengamat sepak bola.
Rashford tidak mencetak gol, tapi pergerakannya menjadi ancaman konstan. Ia ditarik keluar pada menit 76, digantikan Lewandowski yang langsung mencetak gol kedua.
Pelatih Hansi Flick memberikan kepercayaan kepada pemain muda. Fermin Lopez menjadi motor serangan di lini tengah, nyaris mencetak gol pada menit 40. Gavi yang digantikan Marc Bernal pada menit 76 mendapat pelukan hangat dari Flick—sebuah simbol regenerasi yang berjalan mulus.
"Fermin adalah opsi yang lebih baik," tulis laporan langsung saat Lewandowski memilih menembak ketimbang mengumpan ke Fermin yang bebas. Keputusan itu berbuah gol, tapi nama Fermin tetap bersinar.
Wasit tidak memberikan tambahan waktu berarti. Begitu peluit panjang berbunyi, Lamine Yamal—remaja 18 tahun yang musim ini menjadi andalan—langsung bergabung dengan perayaan di lapangan. Bangku cadangan sudah berpesta sejak menit 84.
Bagi Madrid, ini adalah kekalahan telak. Mereka tidak pernah benar-benar bangkit setelah tertinggal 0-2. Kini fokus mereka beralih ke final Copa del Rey, sementara Barcelona tinggal menunggu seremoni penyerahan trofi La Liga. "Campeones," teriak suara dari tribune—bukan "championes" ala Inggris, melainkan jamur yang tumbuh subur di tanah kemenangan.