KALIMANTAN UTARA — IHSG memulai perdagangan pagi ini di zona merah, langsung turun ke 6.065 dan sempat menyentuh level terendah harian di 5.966. Posisi tersebut menjadi yang terendah dalam beberapa sesi terakhir, mengindikasikan tekanan jual yang masih deras. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.533 triliun dengan nilai transaksi mencapai Rp2,87 triliun hingga pukul 09.17 WIB.
Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menilai pergerakan IHSG saat ini sangat riskan. Ia mengatakan indeks sudah menutup penuh gap di area 6.092-6.148, disertai sinyal bearish pada perdagangan sebelumnya. "Jika IHSG turun di bawah 5.911, pelemahan berpotensi berlanjut menuju 5.700," ujar Ivan dalam risetnya.
Level support selanjutnya berada di 5.673 dan 5.439 jika tekanan jual terus berlanjut. Namun, Ivan menambahkan bahwa peluang rebound jangka pendek masih terbuka selama indeks mampu bertahan di atas 5.967. Resistance terdekat ada di 6.459, yang harus ditembus untuk membalikkan sentimen.
Senada dengan Ivan, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana juga memperkirakan IHSG masih akan tertekan. Ia menyebut indeks telah menutup area gap yang sebelumnya terbentuk, sehingga potensi koreksi lanjutan terbuka lebar. "Kami memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan dengan area koreksi berikutnya di kisaran 5.899-5.999," jelas Herditya.
Herditya memasang support harian di level 5.996 dan 5.899, sementara resistance berada di 6.318 dan 6.459. Rentang pergerakan ini menunjukkan bahwa indeks masih dalam fase konsolidasi bearish, di mana setiap kenaikan justru dimanfaatkan investor untuk menjual sahamnya.
Dari total 728 saham yang diperdagangkan, sebanyak 362 saham tercatat melemah, sementara 221 saham menguat dan 145 saham stagnan. Artinya, hampir 50 persen saham di bursa berada dalam tekanan. Sektor perbankan, teknologi, dan properti menjadi sektor yang paling banyak mengalami aksi jual, sejalan dengan pelemahan IHSG yang signifikan.
Volume perdagangan tercatat sebesar 6,20 miliar saham dengan frekuensi 314.930 kali transaksi. Angka ini menunjukkan aktivitas investor masih tinggi, namun lebih didominasi oleh aksi lepas saham dibandingkan akumulasi beli.
Bagi investor ritel, kondisi ini menandakan bahwa risiko jangka pendek masih tinggi. Para analis menyarankan untuk menahan diri tidak melakukan pembelian agresif sebelum IHSG menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah yang valid. Support 5.911 menjadi level yang krusial — jika jebol, maka area 5.700 menjadi target koreksi berikutnya.
Sebaliknya, jika IHSG mampu bertahan di atas 5.967 dan ditutup hijau, peluang technical rebound bisa dimanfaatkan untuk trading jangka pendek. Investasi mengandung risiko.