KALIMANTAN UTARA — Dalam analisis yang dimuat Pikiran Rakyat, Aang Ridwan menggunakan kacamata fenomenologi agama Mircea Eliade untuk membaca dua fenomena massal yang menggerakkan jutaan orang itu. Ia menyebut keduanya tengah mendirikan Axis Mundi—poros dunia tempat langit dan bumi bertemu.
Di Padang Arafah, 9 Dzulhijjah, jutaan jemaah haji menyatu dalam hamparan putih. Aktivitas fisik dihentikan total, ruang profan diinterupsi oleh hening dan kontemplasi.
“Wukuf, yang secara harfiah berarti ‘berhenti’, adalah momentum ketika dimensi ruang dan waktu yang profan diinterupsi,” tulis Aang. Jemaah melakukan i’tiraf—pengakuan jujur atas kedzaliman diri—dan mengkoneksikan diri dengan poros vertikal transendensi. Arafah menjadi pusat alam semesta, tempat orientasi hidup yang retak dirajut kembali.
Beberapa hari sebelumnya, jalanan Kota Bandung berubah menjadi lautan biru. Masyarakat tumpah ruah merayakan hatrick Persib di Liga Indonesia. Bagi Aang, ini bukan sekadar hura-hura tanpa makna.
“Jalanan kota yang biasanya menjadi ruang profan, tempat kompetisi ekonomi, tiba-tiba mengalami sakralisasi sesaat,” jelasnya. Kibaran bendera, nyanyian bersama, dan konvoi bobotoh menciptakan ruang komunal yang mengatasi sekat sosial. Persib bertindak sebagai poros identitas, sementara jalanan Bandung menjadi “langit suci” tempat rasa syukur diekspresikan total.
Secara filosofis, ada kesamaan mendasar: kerinduan manusia untuk keluar dari kedirian yang sempit (self-transcendence). Wukuf mencapainya melalui jalur asketisme, kesunyian, dan pertobatan vertikal. Konvoi bobotoh mencapainya melalui estetisme komunitas, kegemparan, dan perayaan horisontal.
“Wukuf mengajarkan pentingnya beralih dari chaos batin menuju harmoni spiritual melalui i’tiraf. Sementara konvoi mengingatkan bahwa kegembiraan kolektif, jika diresapi rasa syukur, juga memiliki getaran spiritualitasnya sendiri,” tulis Aang.
Pada akhirnya, baik jemaah yang bersimpuh di Arafah maupun bobotoh yang konvoi di Bandung, sama-sama merayakan kehidupan di bawah poros langit yang satu: mencari makna, merayakan eksistensi, dan mengoneksikan diri dengan Yang Ilahi.