KALIMANTAN UTARA — Direktur Operasi dan Teknik PJM, Edward Danner Pardamean Napitupulu, memaparkan konsep tersebut dalam forum 11th Annual LNG Supply, Transport & Storage Forum 2026 di Padma Resort, Bali. Dalam presentasi berjudul "The Benoa Model: How Bali’s FSRU and Maritime Tourism Hub Coexist Through Integrated Energy, Safety, and Environmental Governance", ia menjelaskan bagaimana Terminal LNG Benoa menopang kebutuhan kelistrikan Bali.
Di sisi lain, kawasan pelabuhan yang sama juga melayani kapal pesiar, feri antar-pulau, dan kapal wisata. “Keberhasilan Benoa terletak pada koordinasi terintegrasi antar seluruh pemangku kepentingan sehingga operasional energi dan aktivitas pariwisata dapat berjalan berdampingan secara aman dan optimal,” ujar Edward dalam forum yang dihadiri Kementerian ESDM, SKK Migas, Ditjen Perhubungan Laut, PT PLN Energi Primer Indonesia, hingga operator FSRU itu.
Model pengelolaan ini dijalankan melalui Integrated Coordination Framework. Kerangka kerja itu melibatkan sederet institusi: KSOP, operator FSRU, PLN, KLHK, operator pariwisata, TNI AL, hingga Basarnas.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci dalam menjaga keselamatan operasional, keamanan pelayaran, serta perlindungan lingkungan di kawasan pelabuhan. PJM menilai, model Benoa adalah contoh integrasi infrastruktur energi strategis dengan kawasan pariwisata maritim yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia.
PJM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran Pelabuhan Benoa sebagai pelabuhan multifungsi. Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata yang sempat terpuruk akibat pandemi.
Dengan model ini, Pelabuhan Benoa diharapkan tidak hanya menjadi gerbang masuk wisatawan, tetapi juga pilar utama pasokan listrik yang andal bagi Pulau Bali.