TANJUNG SELOR — Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang, secara resmi mendorong kolaborasi antara Dewan Adat Dayak (DAD) dengan seluruh jajaran pemerintah daerah. Langkah ini dinilai strategis untuk mengoptimalkan potensi ekonomi berbasis budaya yang selama ini belum tergarap maksimal.
Gubernur menilai Kalimantan Utara memiliki kekayaan adat dan tradisi yang luar biasa. Mulai dari seni, kerajinan tangan, hingga ritual adat, semuanya bisa dikemas menjadi produk ekonomi yang bernilai tinggi.
“Kolaborasi ini penting agar budaya tidak hanya menjadi seremonial, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat adat,” ujar Zainal dalam pernyataannya.
Zainal meminta DAD bersama pemda menyusun program konkret yang bisa langsung dirasakan masyarakat. Beberapa sektor yang disorot meliputi pengembangan desa wisata berbasis adat, promosi produk kerajinan lokal, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia di komunitas adat.
Pemerintah provinsi juga akan memfasilitasi akses permodalan dan pemasaran bagi produk-produk budaya yang dihasilkan masyarakat Dayak. Hal ini diharapkan mampu menekan angka kemiskinan di wilayah pedalaman yang mayoritas dihuni suku Dayak.
Jika kolaborasi ini berjalan efektif, masyarakat adat tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga pelaku utama ekonomi kreatif. Mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari sektor pariwisata, kerajinan, hingga kuliner tradisional.
Gubernur menekankan bahwa pendekatan ini harus inklusif. Artinya, seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda Dayak, harus dilibatkan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program.
Selain DAD dan pemerintah provinsi, kolaborasi ini juga akan melibatkan pemerintah kabupaten/kota, akademisi, serta pelaku usaha lokal. Sinergi lintas sektor ini diyakini mampu mempercepat realisasi ekonomi berbasis budaya.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua pihak harus bergandengan tangan agar program ini berkelanjutan,” tambah Zainal.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara menargetkan penyusunan peta jalan (roadmap) kolaborasi ini rampung dalam waktu dekat. Setelah itu, program percontohan akan segera dijalankan di beberapa kampung adat yang dinilai siap.
Zainal berharap inisiatif ini bisa menjadi model pengembangan ekonomi daerah yang mengedepankan kearifan lokal tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.
DAD diminta untuk segera menginventarisasi potensi budaya unggulan di masing-masing wilayah. Data ini akan menjadi dasar bagi pemda untuk menyusun program pendampingan dan alokasi anggaran yang tepat sasaran.
Gubernur juga mengingatkan agar kolaborasi ini tidak bersifat proyek jangka pendek, melainkan program berkelanjutan yang mampu bertahan lintas generasi.