TARAKAN — Ribuan kepala keluarga di pesisir Kota Tarakan masih mengandalkan budidaya rumput laut sebagai sumber pendapatan utama. Data Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan setempat mencatat, sekitar 1.200 KK di beberapa kelurahan seperti Kampung Satu, Kampung Empat, dan Karang Anyar bergantung pada hasil panen komoditas tersebut. Angka ini menunjukkan sektor perikanan budidaya masih menjadi tulang punggung ekonomi warga pesisir di Kalimantan Utara.
Ketua KUD Mina Bahari, Sulaiman, mengungkapkan bahwa pembentukan koperasi pada awal 2024 lalu memberikan angin segar bagi para petani. Sebelumnya, harga rumput laut kering sering dipermainkan tengkulak hingga jatuh ke level Rp 8.000 per kilogram. Kini, KUD menampung hasil panen dengan harga Rp 12.000 per kilogram untuk kualitas kering standar.
Para petani rumput laut di Tarakan selama bertahun-tahun menghadapi fluktuasi harga yang merugikan. Ketergantungan pada tengkulak membuat posisi tawar petani sangat lemah. Saat musim panen raya, harga bisa anjlok hingga di bawah biaya produksi. Kondisi ini diperparah oleh akses modal yang terbatas dan minimnya pengetahuan tentang pengolahan pasca-panen.
Sulaiman menambahkan bahwa selain harga, cuaca ekstrem juga menjadi momok bagi petani. Gelombang tinggi dan angin kencang kerap merusak jaring dan tali bentangan rumput laut di laut. "Kerugian bisa mencapai puluhan juta rupiah dalam sekali musim jika cuaca buruk berkepanjangan," kata Sulaiman saat ditemui di sekretariat KUD, pekan lalu.
Dengan adanya KUD Mina Bahari, pendapatan bersih petani rumput laut di Tarakan mulai menunjukkan perbaikan. Seorang petani dengan 100 tali bentangan rata-rata bisa memanen 300 hingga 400 kilogram rumput laut kering per siklus tanam yang berlangsung sekitar 45 hari. Dengan harga Rp 12.000 per kilogram, pendapatan kotor per siklus mencapai Rp 3,6 juta hingga Rp 4,8 juta per petani.
Namun, angka tersebut belum dipotong biaya produksi seperti bibit, tali, dan tenaga kerja. Petani masih mengeluhkan tingginya harga bibit rumput laut yang mencapai Rp 5.000 per kilogram. Pemerintah Kota Tarakan melalui Dinas Perikanan telah mengalokasikan bantuan bibit gratis untuk 200 petani pada tahun ini.
Pemerintah daerah menargetkan peningkatan produksi rumput laut Tarakan sebesar 15 persen pada tahun 2026. Salah satu strateginya adalah memperluas area budidaya di perairan Kecamatan Pulau Bunyu dan Tarakan Timur. Selain itu, pemkot juga mendorong diversifikasi produk olahan rumput laut seperti makanan ringan dan kosmetik agar nilai jualnya naik.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tarakan saat ini tengah memfasilitasi pelatihan pengolahan rumput laut bagi kelompok ibu-ibu nelayan di Kampung Empat. Produk olahan seperti dodol rumput laut dan kerupuk rumput laut mulai dipasarkan di toko oleh-oleh dan pasar daring. Langkah ini diharapkan bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal dan mengurangi ketergantungan pada harga jual rumput laut mentah.
Meski ada perbaikan harga, petani rumput laut di Tarakan masih menghadapi sejumlah kendala klasik. Cuaca ekstrem yang kerap melanda perairan Kalimantan Utara menjadi faktor utama yang sulit diprediksi. Selain itu, serangan hama seperti penyakit ice-ice yang membuat rumput laut membusuk masih sering terjadi, terutama saat musim kemarau panjang.
Ketersediaan bibit unggul juga masih terbatas. Sebagian besar petani masih menggunakan bibit lokal yang kualitasnya menurun setelah beberapa kali siklus tanam. Balai Perikanan Budidaya Air Payau dan Laut Tarakan telah mengembangkan bibit rumput laut kultur jaringan, namun distribusinya belum merata ke seluruh kelompok tani di pesisir.