KALIMANTAN UTARA — Rencana pembagian dividen jumbo ini telah disetujui dalam RUPST Antam yang berlangsung pekan lalu. Dengan rasio pembayaran 70 persen, perusahaan pelat merah ini mengalokasikan hampir tiga perempat laba bersihnya untuk dibagikan kepada para pemegang saham.
Dari total Rp5,04 triliun yang disiapkan, pemegang saham akan menerima dividen sesuai dengan kepemilikan saham masing-masing. Porsi terbesar, yaitu 65 persen saham atau sekitar Rp3,27 triliun, akan masuk ke kas negara melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) selaku induk holding BUMN tambang.
Sisanya, sebesar 35 persen atau Rp1,77 triliun, akan didistribusikan kepada publik dan investor institusi lainnya. Dengan jumlah saham beredar sebanyak 24 miliar lembar, maka dividen per saham (DPS) Antam diperkirakan mencapai Rp210 per lembar.
Keputusan membagikan dividen setinggi ini tak lepas dari kinerja keuangan Antam yang gemilang sepanjang tahun lalu. Sepanjang 2024, emiten berkode saham ANTM ini membukukan laba bersih sebesar Rp7,2 triliun. Angka ini melesat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan laba itu terutama ditopang oleh kenaikan harga komoditas emas dan nikel di pasar global. Antam sendiri merupakan salah satu produsen emas dan nikel terbesar di Indonesia dengan cadangan tambang yang tersebar di Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Jawa Barat.
Bagi investor, dividen jumbo ini menjadi kabar baik di tengah volatilitas pasar saham. Yield dividen Antam diperkirakan berada di kisaran 4-5 persen dari harga saham saat ini, menjadikannya salah satu saham tambang dengan imbal hasil paling atraktif di bursa.
Bagi negara, setoran dividen ini menambah pemasukan di luar pajak. Pemerintah memang terus mendorong BUMN untuk meningkatkan rasio pembayaran dividen (payout ratio) demi menambal defisit anggaran. Antam menjadi salah satu pionir dengan rasio 70 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata BUMN lain yang berkisar 30-50 persen.
Ke depan, Antam berencana menggunakan sisa laba yang tidak dibagikan, sekitar Rp2,16 triliun, untuk modal kerja dan ekspansi bisnis. Perusahaan tengah fokus menyelesaikan pembangunan smelter nikel di Halmahera Timur yang ditargetkan beroperasi penuh pada akhir tahun ini.