TARAKAN — BMKG Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan merilis analisis resmi terkait hujan es yang melanda Krayan dan Krayan Barat, Nunukan. Forecaster On Duty Muhammad Hermansyah menjelaskan bahwa fenomena ini bukan peristiwa tunggal, melainkan hasil akumulasi beberapa kondisi atmosfer yang saling menguatkan.
“Hasil analisis meteorologi menunjukkan kejadian hujan es disertai angin kencang di Krayan dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang sangat mendukung pertumbuhan awan Cumulonimbus,” ujar Hermansyah dalam rilis resmi, Jumat (17/7/2026).
Suhu muka laut di perairan Kalimantan Utara tercatat berada di kisaran 30–32 derajat Celsius, dengan anomali positif 0,5 hingga 1,0 derajat Celsius. Kondisi ini meningkatkan penguapan dan menyediakan pasokan uap air melimpah untuk pembentukan awan hujan.
Pada saat bersamaan, Gelombang Kelvin terpantau aktif melintasi wilayah Kalimantan Utara. Fenomena ini, ditambah adanya perlambatan angin (konvergensi) di lapisan 925 hPa, menyebabkan massa udara terkumpul dan terdorong naik. Hermansyah menambahkan, kelembapan udara di Krayan mencapai 80–100 persen pada lapisan 925–700 mb, mendukung pertumbuhan awan konvektif hingga menjadi Cumulonimbus.
Citra satelit cuaca menunjukkan awan mulai tumbuh di wilayah Krayan sekitar pukul 16.00 WITA. Fase matang tercapai pada rentang 16.30 hingga 17.30 WITA, ditandai suhu puncak awan mencapai minus 69 derajat Celsius. BMKG menyebut suhu ekstrem ini mengindikasikan awan berkembang sangat tinggi dan berpotensi memicu hujan lebat, petir, angin kencang, hingga hujan es.
Data radar cuaca mengonfirmasi intensitas hujan terus meningkat sejak 16.02 WITA, mencapai puncak pada 16.57 WITA, sebelum melemah sekitar pukul 17.34 WITA.
Stasiun Meteorologi Yuvai Semaring mencatat curah hujan harian mencapai 75 milimeter — masuk kategori hujan lebat — dengan kecepatan angin maksimum 18 knot. Hujan deras berlangsung dari pukul 16.00 hingga 18.00 WITA.
Dampak di lapangan: satu rumah warga tertimpa pohon tumbang, sejumlah atap rumah dan tempat ibadah di Desa Long Katung terlepas akibat terjangan angin. Satu pagar rumah warga dan satu tiang radio SSB juga roboh. Hingga laporan diterbitkan, tidak ada korban jiwa. Kerugian material masih dalam pendataan.
Muhammad Hermansyah menambahkan, berdasarkan analisis terkini, potensi hujan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Utara dalam tujuh hari ke depan.
“BMKG mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, maupun genangan air. Masyarakat juga diharapkan terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG serta menghindari aktivitas di luar ruangan saat terjadi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang,” pungkasnya.