Bantuan Gizi di Posyandu Tana Tidung Ingatkan Stunting Bisa Dicegah Sejak Ibu Hamil

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 22:04:01 WIB
Ratusan ibu hamil dan balita memadati Posyandu Teratai Putih di Desa Tideng Pale, Tana Tidung, untuk memantau tumbuh kembang anak di tengah hujan deras.

TANA TIDUNG — Ratusan ibu hamil, ibu melahirkan, dan balita di Desa Tideng Pale tetap memadati Posyandu Teratai Putih meski hujan deras turun sejak pagi. Mereka datang bukan sekadar mengambil paket bantuan, tetapi untuk memastikan tumbuh kembang anak terpantau secara berkala.

Kehadiran warga di tengah cuaca buruk menunjukkan bahwa layanan kesehatan ibu dan anak bukan lagi sekadar program pemerintah, melainkan kebutuhan yang telah dipahami masyarakat akar rumput. Posyandu menjadi garda terdepan pemantauan gizi di tingkat desa.

Mengapa Pencegahan Stunting Harus Dimulai Sejak Kehamilan?

Hj. Rahmawati Zainal menegaskan bahwa periode 1.000 hari pertama kehidupan—dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun—adalah jendela kritis yang menentukan kualitas generasi mendatang. Kecukupan gizi ibu selama hamil berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan otak dan fisik anak setelah lahir.

“Bantuan ini bukan hanya tentang paket makanan, tetapi tentang kepedulian kita bersama untuk memastikan ibu dan anak mendapatkan gizi yang cukup,” ujar Rahmawati dalam sambutannya.

Ia menilai, selama ini sebagian keluarga masih menganggap stunting sebagai masalah yang baru terlihat setelah anak berusia di atas dua tahun. Padahal, akar masalahnya sudah terbentuk sejak masa kehamilan.

Posyandu Bukan Sekadar Tempat Imunisasi

Dalam kesempatan itu, Rahmawati mengingatkan bahwa Posyandu memiliki keterkaitan dengan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) daerah, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga ketenteraman umum. Artinya, layanan di posyandu tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem kesejahteraan warga secara utuh.

“Pemeriksaan rutin, pemantauan tumbuh kembang balita, konsumsi makanan bergizi seimbang, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat harus terus dilakukan di lingkungan keluarga,” katanya.

Kader Posyandu: Ujung Tombak yang Kerap Terlupakan

Di balik kelancaran kegiatan tersebut, terdapat peran kader yang bekerja langsung di tengah masyarakat. Rahmawati memberikan apresiasi khusus kepada mereka yang menjadi penghubung antara keluarga dan layanan kesehatan.

Menurutnya, kader tidak hanya mengingatkan jadwal pelayanan, tetapi juga mampu mendeteksi dini persoalan kesehatan ibu dan anak yang mungkin terlewat oleh tenaga medis.

“Upaya mengurangi stunting tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu dan keluarga harus bergerak bersama agar setiap anak mendapatkan kesempatan tumbuh sehat,” tegasnya.

Investasi Masa Depan Kaltara Bukan Hanya Beton

Kegiatan di Posyandu Teratai Putih menjadi pengingat bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak bisa dilakukan secara instan. Kabupaten Tana Tidung, sebagai salah satu daerah dengan tantangan geografis di Kalimantan Utara, membutuhkan konsistensi layanan kesehatan hingga ke pelosok desa.

Rahmawati juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Tana Tidung, Tim Pembina Posyandu, dan tenaga kesehatan yang mendukung kegiatan tersebut. Ia berharap bantuan gizi yang disalurkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama mewujudkan Kalimantan Utara bebas stunting.

“Saya berharap bantuan ini benar-benar bermanfaat bagi para penerima dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama mewujudkan Kalimantan Utara bebas stunting serta melahirkan generasi yang sehat, cerdas dan berdaya saing,” pungkasnya.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: intikatanusantara.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top