BI dan Pemprov Kaltara Perkuat Kolaborasi, BEF 2026 Fokus Ciptakan Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Penulis: Edi Wahyono  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:33:31 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik, memberikan sambutan dalam pembukaan Benuanta Economic Forum (BEF) 2026 di Tanjung Selor, Selasa (4/8/2026).

TANJUNG SELOR — Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Utara bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara resmi membuka Benuanta Economic Forum (BEF) 2026 di Tanjung Selor, Selasa (4/8/2026). Forum ini menjadi ajang penyatuan langkah pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan perbankan untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan di Bumi Benuanta.

Mengusung tema "Menavigasi Transformasi Ekonomi Kalimantan Utara Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Industri Pertambangan", forum ini digelar di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi Kaltara yang masih impresif. Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltara, Agus Taufik, menyebut perekonomian daerah tumbuh 5,23 persen (year on year) pada Triwulan I 2026.

BI: Ketergantungan Batu Bara Bikin Ekonomi Kaltara Rapuh

Di balik angka pertumbuhan tersebut, Agus Taufik mengingatkan adanya kerentanan struktural. Menurutnya, perekonomian Kaltara yang bertumpu pada sektor batu bara membuat daerah ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas dan gejolak ekonomi global.

Momentum pertumbuhan yang ada saat ini, kata dia, harus dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi. Bank Indonesia mendorong pengembangan sektor-sektor baru yang mampu menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang, tidak sekadar mengandalkan kekayaan alam yang suatu saat bisa habis.

KIHI Mangkupadi dan PLTA Mentarang Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Ada tiga arah transformasi yang disorot dalam forum tersebut. Pertama, percepatan pembangunan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Mangkupadi yang diharapkan menjadi magnet investasi besar. Kedua, pengembangan energi bersih melalui proyek PLTA Mentarang Induk. Ketiga, penguatan rantai pasok lokal agar investasi yang masuk memberikan efek berganda bagi perekonomian masyarakat.

"Investasi harus berdampak luas, bukan hanya untuk korporasi tetapi juga untuk pelaku usaha lokal," tegas Agus Taufik. Ia menambahkan, penguatan UMKM menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar, salah satunya lewat digitalisasi usaha dan perluasan akses pembiayaan agar pelaku usaha kecil mampu terintegrasi ke dalam rantai industri yang sedang berkembang.

Pemprov Luncurkan Platform Pemantau Pangan Real-Time

Pada kesempatan yang sama, dilakukan Re-Launching Website Neraca Pangan Siap Sigapku 2.0 Provinsi Kalimantan Utara. Platform digital yang dikembangkan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) ini memungkinkan pemantauan stok dan kondisi pangan secara real time. Sistem ini juga dilengkapi peringatan dini terhadap potensi gangguan pasokan maupun lonjakan harga.

Kehadiran platform ini diharapkan memperkuat efektivitas pengendalian inflasi daerah. Data yang akurat dan cepat menjadi kunci bagi pemerintah dalam mengambil keputusan, terutama saat menghadapi gejolak harga kebutuhan pokok.

Wagub Ingkong Ala: Sinergi Kunci Hadapi Dinamika Global

Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Ingkong Ala, mengapresiasi konsistensi Bank Indonesia dalam mendukung pembangunan daerah, termasuk melalui penyusunan Laporan Perekonomian Provinsi yang menjadi referensi penting bagi perumusan kebijakan. Ia menegaskan komitmen Pemprov Kaltara untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan konektivitas.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan merupakan modal utama. "Kita harus mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global," ujarnya.

Hilirisasi dan Investasi Berkelanjutan Jadi Fondasi Ekonomi Baru

Forum ini turut menghadirkan narasumber nasional, di antaranya David Sumual, Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk, Bertius selaku Kepala Bapperida Provinsi Kaltara, serta Dr. Margiyono, akademisi Universitas Borneo Tarakan. Ketiganya membahas prospek ekonomi Kaltara di tengah dinamika geopolitik global dan arah kebijakan pembangunan daerah.

Hilirisasi, investasi, dan pengembangan industri berkelanjutan menjadi kata kunci yang disepakati sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi baru. Melalui forum ini, BI dan Pemprov Kaltara berharap lahir langkah konkret yang mampu membawa Kaltara melangkah lebih maju, tidak hanya mengandalkan batu bara tetapi juga sektor-sektor produktif lainnya. (*)

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: kaltaragrande.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top