KALIMANTAN UTARA — Rute sepanjang puluhan kilometer itu dinilai mampu menghadirkan pengalaman sejarah yang lebih utuh dibanding rute sebelumnya yang hanya melintasi kawasan sekitar Monas dan Istana Merdeka. Fadli menyebut perluasan rute akan menghubungkan dua titik krusial dalam rentetan peristiwa menjelang 17 Agustus 1945, yaitu lokasi penculikan para tokoh bangsa dan tempat perumusan naskah proklamasi.
"Tapak tilas proklamasi ini harus kita maknai sebagai praktik literasi sejarah. Kita berjalan melewati ruang kota sambil membaca lapisan sejarah, menghubungkan nama tempat, artefak, dan peristiwa," ujar Fadli dalam sambutannya, Minggu (16/8).
Rengasdengklok, yang terletak di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menjadi saksi peristiwa penahanan Soekarno dan Mohammad Hatta oleh golongan muda pada 16 Agustus 1945. Peristiwa ini mendesak kedua tokoh untuk segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan Jepang.
Sementara itu, Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, merupakan lokasi berlangsungnya penyusunan teks proklamasi pada dini hari 17 Agustus 1945. Di gedung ini, Soekarno, Hatta, dan tokoh lainnya merampungkan naskah yang kemudian dibacakan di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.
Fadli menilai penyatuan dua lokasi dalam satu rute tapak tilas akan memperkaya pemahaman masyarakat tentang proses, pengorbanan, dan keputusan yang melahirkan Proklamasi.
Selain tapak tilas, rangkaian Bulan Proklamasi juga menghadirkan pameran foto dan numismatik bertajuk "Merdeka, Berdaulat, dan Menempa Rupa". Pameran ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Kebudayaan dengan Perum LKBN ANTARA.
Pameran menampilkan koleksi foto-foto kesaksian sejarah karya Mendur bersaudara serta mata uang yang beredar pada masa-masa awal kemerdekaan. "Saksi kemerdekaan juga ada pada mata uang dan prangko. Tahun lalu kita merilis prangko pendiri bangsa. Tahun ini kita memamerkan foto kesaksian penting dari Mendur bersaudara," kata Fadli.
Kegiatan Tapak Tilas Proklamasi 2026 melibatkan pelajar dari SMKN 27 Jakarta dan SMAN 68 Jakarta, serta komunitas pegiat sejarah seperti Komunitas Historia Indonesia dan kelompok seni. Keterlibatan generasi muda menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan acara tahunan yang digelar sejak 1983 ini.
Fadli menekankan bahwa peringatan kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni belaka. "Besok kita akan merayakan HUT Kemerdekaan ke-81. Jangan hanya kita mengenang, tapi bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya menuju cita-cita kemerdekaan," tandasnya.
Usulan perluasan rute ini masih akan dibahas lebih lanjut dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pihak terkait untuk mematangkan teknis pelaksanaan pada tahun-tahun mendatang.