KALIMANTAN UTARA — Loui Ridi bukan sekadar pulang kampung. Penerbangannya kali ini dipicu keadaan darurat: rumah keluarganya di Qusra, Tepi Barat, dikepung pemukim Israel. Ibunya yang berusia 83 tahun, bersama 14 warga lainnya, tak bisa keluar dari tiga rumah yang terkepung selama lebih dari seminggu terakhir.
Informasi ini pertama kali diungkap dalam pemberitaan yang menyebut Ridi sedang dalam perjalanan dari Amerika Serikat. Belum ada keterangan resmi dari otoritas Israel maupun otoritas Palestina mengenai insiden pengepungan ini.
Pengepungan di Qusra menimpa tiga rumah yang dihuni 15 orang. Di antara mereka ada seorang perempuan lanjut usia, ibu dari Loui Ridi. Selama lebih dari tujuh hari, mereka dikepung oleh pemukim Israel yang menurut hukum internasional dianggap ilegal.
Belum ada rincian mengenai kondisi warga yang terjebak, termasuk ketersediaan makanan, air, dan obat-obatan. Upaya Ridi untuk terbang ke Tepi Barat menunjukkan tingkat keparahan situasi yang membuat keluarganya meminta bantuan darurat dari luar negeri.
Pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki memang masuk kategori ilegal. Namun, bahan berita yang tersedia tidak menyebutkan adanya pernyataan resmi dari pemerintah Israel terkait pengepungan di Qusra ini.
Posisi Ridi sebagai warga negara ganda, Palestina dan Amerika, menambah dimensi tersendiri. Ia memiliki akses perjalanan yang lebih mudah dibanding warga Palestina lain di Tepi Barat, namun status itu tidak mengubah fakta bahwa keluarganya tetap terjebak di lokasi yang sama.
Perkembangan yang dinantikan adalah respons otoritas Israel terhadap pengepungan ini, serta kondisi terkini ibu Ridi dan 14 warga lain yang masih berada di dalam rumah. Upaya Ridi untuk tiba di lokasi akan menjadi penentu apakah ia bisa menjangkau keluarganya atau justru menghadapi hambatan di pos pemeriksaan.