KALIMANTAN UTARA — Anycubic resmi memasarkan printer resin Photon P1 Max secara global, termasuk Indonesia. Perangkat ini menghadirkan volume build 285,5 x 214 x 300 mm, menjawab kebutuhan kreator yang ingin mencetak objek besar tanpa mengorbankan detail. Desainnya mengusung bahasa visual yang sama dengan pendahulunya, P1, dengan bodi kokoh dan sistem pengunci yang lebih modern.
Pembeda utama P1 Max terletak pada heated vat yang menjaga suhu resin tetap stabil di 35 derajat Celsius. Sebelumnya, pengguna Anycubic kerap mengeluh karena pemanas hanya aktif di awal lalu mati. Dengan suhu konsisten, resin tetap encer dan hasil cetak lebih andal, terutama di ruangan bersuhu dingin.
Anycubic juga membenamkan Wave Release Technology pada printer ini. Penutup khusus di atas layar LCD berfungsi mengurangi gaya tarik saat pelepasan cetakan. Teknologi ini mencegah gelembung udara terperangkap antara film FEP dan layar, sehingga proses peel terasa lebih halus dan risiko kegagalan cetak menurun drastis.
Sistem pengunci pelat build dan vat turut dirombak. Keduanya kini memakai mekanisme jepit yang lebih praktis, menggantikan sekrup ala generasi lama. Vat-nya sendiri mampu menampung hingga 1.900 ml resin, cukup untuk proyek besar tanpa sering mengisi ulang.
Unit P1 Max yang diuji Tom's Hardware hadir dalam kondisi terakit penuh. Pengguna tinggal melepas material kemasan dan lapisan pelindung layar. Untuk kalibrasi, printer ini mengandalkan Intelligent Assistant 3.0 dan sistem Smart Dynamic Balance yang membantu leveling pelat build secara otomatis.
Meski demikian, firmware unit uji masih dalam tahap awal dan memiliki sedikit gangguan. Setelah leveling, pelat build naik sekitar 100 mm dari layar sebelum pengguna diminta memutar sekrup penyesuaian. Proses ini tetap berfungsi, namun kurang praktis dibanding P1 yang memungkinkan penyesuaian langsung saat pelat menempel di layar. Tom's Hardware berharap Anycubic segera merilis pembaruan firmware untuk menyempurnakan alur ini.
Tom's Hardware menguji P1 Max dengan beberapa model kompleks. Figur Tyrael dari game Diablo yang dipecah menjadi beberapa bagian berhasil dicetak dalam 7 jam 24 menit pada ketebalan lapisan 0,050 mm. Cetakan ini menghabiskan 254 ml resin atau biaya sekitar US$5 (Rp82 ribu), jauh lebih hemat dibanding membeli figur jadi seharga US$25–US$80.
Uji lain dilakukan pada model Diablo Lord of Terror yang diperbesar. Prosesnya memakan waktu 14 jam 15 menit dengan konsumsi 1.106 ml resin. Masker hewan peliharaan bertema Pokemon Cubone juga berhasil dicetak dalam 6 jam 5 menit menggunakan 519 ml resin. Ketiga model ini dikirim ke printer melalui Wi-Fi.
Dari sisi perangkat lunak, P1 Max kompatibel dengan slicer bawaan Anycubic Photon Workshop. Pengguna juga bisa memakai aplikasi pihak ketiga seperti Chitubox dan Lychee, sehingga tidak perlu pindah ekosistem jika sudah terbiasa dengan slicer tertentu.
Anycubic Photon P1 Max dijual dengan harga perkenalan US$1.103 (sekitar Rp18,2 juta) selama periode presale di situs resmi Anycubic. Setelah masa itu berakhir, harga normalnya naik tipis menjadi US$1.149 (sekitar Rp19 juta). Di platform Amazon, printer ini tersedia lebih murah, yakni US$899 (sekitar Rp14,8 juta) setelah memakai kupon potongan US$230.
Perlu dicatat, harga tersebut belum termasuk aksesori seperti mesin cuci dan curing. Anycubic menjual unit Wash and Cure terpisah seharga US$249 (sekitar Rp4,1 juta). Untuk keamanan, pastikan ruangan tempat mencetak memiliki ventilasi baik karena resin cair dan pelarutnya tetap membutuhkan penanganan hati-hati.
Anycubic Photon P1 Max adalah printer resin yang dirancang untuk menjembatani kebutuhan pemula dan pengguna mahir. Volume cetaknya yang besar, sistem pelepasan cetakan yang halus, serta vat berpemanas menjadi nilai jual utama di kelas harga ini. Bagi kreator yang kerap mencetak model besar atau patung dengan detail tinggi, P1 Max layak masuk daftar pertimbangan. Namun, jika kebutuhan cetak Anda masih dalam skala kecil, seri P1 yang lebih murah (US$499 atau sekitar Rp8,2 juta) bisa menjadi alternatif efisien.