KALIMANTAN UTARA — Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan langkah Apple memasuki kategori ponsel lipat lewat iPhone Duo, produk besar pertama di bawah CEO baru John Ternus. Samsung sendiri sudah lebih dulu menggarap kategori ini sejak Galaxy Fold pertama meluncur pada 2019.
Data Samsung menunjukkan pembeli Galaxy Z Fold8 tertarik pada bodi yang tipis dan ringan. Layar bagian dalamnya dinilai mendukung multitasking dan konsumsi konten dengan lebih nyaman.
Untuk varian Fold8 Ultra, alasan pembelian bergeser ke layar lebih luas dan ruang kerja tambahan. Banyak pembeli mengaku tak lagi perlu membawa tablet terpisah.
Di pasar Amerika Serikat, 30% pembeli Galaxy Z Flip8 merupakan pengguna yang beralih dari merek pesaing. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali membeli ponsel lipat.
Angka ini memperkuat posisi Samsung sebagai pemain dominan di segmen lipat global. Lembaga riset Counterpoint memproyeksikan Samsung menguasai 32% pangsa pasar ponsel lipat dunia tahun ini.
Samsung memperbarui fitur Smart Switch untuk mempermudah perpindahan pengguna iPhone. Kini data bisa dipindahkan ke perangkat Galaxy secara nirkabel hanya dengan memindai kode QR.
Pengguna iPhone tidak perlu menginstal aplikasi Smart Switch lebih dulu di perangkat lama mereka. Langkah ini memangkas hambatan teknis yang biasanya jadi alasan pengguna enggan pindah ekosistem.
Peta persaingan diprediksi berubah setelah Apple masuk. Counterpoint memperkirakan Apple langsung meraup 25% pangsa pasar ponsel lipat global begitu produknya tersedia luas.
Huawei tetap menjadi kekuatan utama di pasar China. Namun dominasi Samsung di luar China masih sulit digeser dalam waktu dekat, terutama karena portofolio Fold dan Flip yang sudah matang.
Bagi pengguna iPhone yang mempertimbangkan pindah ke perangkat lipat, seri Galaxy Z Fold8 dan Flip8 kini jadi kandidat terkuat dari sisi kematangan ekosistem dan kemudahan migrasi data. Keputusan akhir tetap bergantung pada preferensi ukuran layar dan kebutuhan multitasking harian.