KALIMANTAN UTARA — Sara Wijayanto kembali memerankan Laras dalam The Doll Ghawiah, prekuel semesta horor The Doll yang tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Aktris sekaligus YouTuber itu menyebut film garapan sutradara Guntur Soeharjanto ini menampilkan sisi paling rentan dari karakternya, sesuatu yang belum pernah diperlihatkan dalam empat film sebelumnya.
Hitmaker Studios memperluas semesta horor The Doll lewat The Doll Ghawiah, yang berfungsi sebagai titik awal kronologi seluruh rangkaian cerita. Dalam film ini, Sara Wijayanto menggali fase awal kehidupan Laras, masa ketika sang tokoh masih diliputi keraguan terhadap kepekaan batinnya.
Penampilan Laras di sekuel-sekuel sebelumnya identik dengan sosok yang tenang dan terbiasa berhadapan dengan entitas gaib. The Doll Ghawiah membalik pendekatan itu dengan menempatkan Laras sebagai perempuan biasa yang belum memahami kemampuan dirinya.
Sara menegaskan posisi The Doll Ghawiah dalam garis waktu waralaba ini. Ceritanya berlangsung jauh sebelum rangkaian kejadian di film-film terdahulu.
"Tahun 2017 itu ada The Doll, terus The Doll 2, Sabrina, dan The Doll 3. Nah, ini kejadiannya sebelum semua terjadi," kata Sara Wijayanto saat ditemui di Kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).
Dengan kata lain, penonton akan melihat bagaimana Laras tumbuh menjadi figur yang dikenal di film-film berikutnya. Prekuel ini menjawab pertanyaan soal asal-usul kepekaan batinnya.
Untuk adegan ketakutan, Sara tidak mengandalkan teknik akting semata. Ia mengingat kembali pengalaman pribadinya saat dilanda rasa takut, lalu menyalurkannya ke dalam ekspresi Laras di depan kamera.
"Di sini bener-bener ngasih lihat sisi manusiawi dia. Scene di mana untuk menampilkan Laras yang takut, itu aku harus mengingat diriku dulu gimana (saat takut). Ini bener-bener menampilkan sisi Laras yang sangat vulnerable gitu yang sebelumnya nggak pernah dikasih lihat," ujar Sara.
Pendekatan itu membuat Laras tampil lebih membumi dibanding versi yang muncul di film-film sebelumnya. Sara menyebut sisi rentan tersebut sengaja tidak pernah dieksplorasi dalam penampilan-penampilannya terdahulu.
The Doll Ghawiah mengambil latar tahun 1988. Pasangan Arya dan Evi menghadapi kebangkrutan finansial di Jakarta, lalu membawa kedua putri mereka, Gita dan Nala, memulai hidup baru di kawasan Babakan Siliwangi, Bandung.
Kehidupan keluarga itu berubah setelah Nala bertemu seorang anak misterius di tengah rimbun pepohonan hutan. Nala membawa pulang boneka bernama Ghawiah, dan sejak itu rangkaian kejadian gaib menghantui rumah mereka.
Boneka Ghawiah tampil dengan wajah yang sekilas manis dan polos. Di balik penampilan itu tersimpan aura mengintimidasi, sekaligus jiwa-jiwa terluka yang mengancam keselamatan penghuni rumah.
Laras, yang bekerja sebagai pelayan restoran lokal, mulai mengungkap legenda kelam di balik boneka tersebut. Ia mengisahkan arwah bocah bernama Uci yang tewas akibat kecelakaan tabrak lari di Jalan Siliwangi.
Hitmaker Studios menyiapkan The Doll Ghawiah dalam format premium, termasuk layar IMAX. Ketajaman visual dan tata suara intens dihadirkan untuk memperkuat atmosfer mencekam sepanjang film.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Tanggal tersebut menempatkannya di periode rilis jelang akhir tahun, saat pasar film horor lokal biasanya bergerak cukup ramai.
Waralaba The Doll sendiri sudah melahirkan empat judul sejak 2017, dengan Sabrina dan The Doll 3 sebagai dua penutup rangkaian sebelumnya. Kehadiran prekuel ini menandai upaya Hitmaker menjaga relevansi semesta horor mereka di tengah persaingan film genre yang makin ketat.