Kredit Bank di Kaltara Melonjak 54,12 Persen hingga Agustus 2026, DPK Justru Menyusut 9,06 Persen

Penulis: Dedi Supriadi  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 07:46:01 WIB
Kredit perbankan di Kalimantan Utara tumbuh 54,12 persen hingga Agustus 2026, sementara DPK menyusut 9,06 persen.

TARAKAN — Kinerja pembiayaan perbankan di Kalimantan Utara sepanjang Januari–Agustus 2026 menunjukkan arah berlawanan antara kredit dan penghimpunan dana. Kredit investasi tumbuh 86,75 persen secara tahunan, kredit modal kerja 43,43 persen, dan kredit konsumsi 3,66 persen. Sementara itu, giro terkontraksi 23,39 persen dan deposito turun 22,02 persen, dengan tabungan menjadi satu-satunya komponen DPK yang masih tumbuh positif 3,95 persen.

Mengapa DPK Turun tapi Kredit Tetap Ekspansif?

Agus Taufik menyebut penurunan penghimpunan dana masyarakat tidak menghentikan ekspansi pembiayaan perbankan di daerah itu. Kredit tetap bergerak positif dan menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi Kaltara.

"Meskipun DPK mengalami kontraksi akibat penurunan pada komponen giro dan deposito, fungsi intermediasi perbankan di Kaltara tetap kuat dan ekspansif dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah," kata Agus.

Dia menambahkan pertumbuhan kredit masih ditopang berbagai kebutuhan pembiayaan, terutama investasi dan modal kerja. Kondisi itu dinilai menunjukkan aktivitas pembiayaan di Kaltara masih cukup kuat.

Industri Pengolahan Kuasai 44 Persen Pangsa Kredit

Sektor industri pengolahan menjadi penerima pembiayaan terbesar dengan pangsa sekitar 44 persen. Kredit pada sektor tersebut tumbuh 153,28 persen secara tahunan.

Kredit rumah tangga menyusul dengan pangsa 15,90 persen dan pertumbuhan 3,62 persen. Tingginya ekspansi kredit secara umum diikuti kualitas kredit yang masih terkendali.

Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) seluruh kredit tercatat 0,70 persen secara gross pada Agustus 2026. "Untuk kualitas kredit secara keseluruhan masih terkendali. NPL perbankan Kaltara tercatat 0,70 persen secara gross, sehingga risiko kredit secara umum masih berada dalam batas yang terjaga," ujar Agus.

Kredit UMKM Justru Menyusut, NPL Capai 7,12 Persen

Angka NPL agregat itu belum menggambarkan kondisi seluruh kelompok debitur. Kredit UMKM justru terkontraksi 1,46 persen secara tahunan dengan outstanding mencapai Rp5,47 triliun.

Pangsa kredit UMKM tercatat 11,91 persen. Pada periode yang sama, NPL UMKM mencapai 7,12 persen atau sekitar sepuluh kali lipat dibandingkan NPL keseluruhan perbankan Kaltara yang berada di level 0,70 persen.

Perbedaan itu menjadi catatan dalam perkembangan pembiayaan UMKM di Kaltara. Ketika penyaluran kredit secara umum tumbuh tinggi, kredit UMKM justru menurun dan dibarengi tingkat kredit bermasalah yang lebih tinggi.

"Pembiayaan UMKM tetap perlu diperkuat dengan memperhatikan kemampuan usaha dan kualitas kredit. Perbankan juga perlu memberikan pendampingan agar pelaku UMKM dapat mengelola pembiayaan dengan baik," kata Agus.

Dorongan BI Kaltara ke Perbankan

Bank Indonesia Kaltara menilai perkembangan kredit tersebut tetap perlu diikuti penguatan manajemen risiko. Ekspansi pembiayaan diharapkan tidak hanya meningkatkan volume kredit, tetapi juga menjaga kualitas portofolio perbankan, khususnya pada kelompok UMKM.

"Secara keseluruhan, stabilitas sektor keuangan di Kaltara tetap terjaga dengan risiko yang terkendali. Kami mendorong perbankan untuk terus memperluas pembiayaan yang sehat, termasuk memperkuat pendampingan bagi UMKM agar kualitas kreditnya dapat membaik," pungkas Agus.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: headlinews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top